Iqbal Musyaffa
03 Agustus 2020•Update: 03 Agustus 2020
Jakarta
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan terjadi deflasi sebesar 0,10 persen pada Juli berdasarkan survei indeks harga konsumen (IHK) di 90 kota.
Kepada BPS Suhariyanto mengatakan deflasi tersebut membuat inflasi tahun kalender Januari-Juli sebesar 0,98 persen, sementara secara tahunan inflasi sebesar 1,54 persen.
“Dari 90 kota yang dipantau BPS, 61 kota mencatat deflasi dan 29 kota inflasi,” jelas dia dalam konferensi pers virtual, Senin.
Suhariyanto mengatakan deflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar 1,09 persen akibat penurunan harga komoditas pangan seperti bawang merah dan bawang putih.
Kemudian deflasi terendah sebesar 0,01 persen terjadi di Gunung Sitoli, Bogor, Bekasi, Luwuk, dan Bulukumba.
“Sementara itu, inflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar 1,45 persen karena kenaikan tarif angkutan udara, serta inflasi terendah di Banyuwangi dan Jember 0,01 persen,” imbuh Suhariyanto.
Dia mengatakan bahwa saat ini perkembangan ekonomi global masih penuh ketidakpastian sehingga setiap negara mengutamakan keselamatan warga dan mengupayakan denyut ekonomi tetap bergerak.
“Bukan persoalan mudah menjaga keseimbangan,” kata dia.
Suhariyanto menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi di banyak negara melambat dan bahkan kontraksi.
Ditambah lagi eskalasi ketegangan antara AS dan China serta fluktuasi harga komoditas sehingga membuat inflasi di berbagai negara melambat dan mengarah pada deflasi.