Muhammad Latief
22 Agustus 2017•Update: 23 Agustus 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Setelah tertunda lebih dari 2 tahun, Indonesia kembali melanjutkan perundingan perdagangan dengan Chile, salah satu negara utama di kawasan Amerika Latin, melalui ajang Trade in Goods (TIGs) Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership (IC-CEPA).
Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Imam Pambagyo mengatakan perundingan ini penting bagi Indonesia demi menembus pasar Amerika Latin. “Kedua negara berkomitmen menyelesaikan perundingan ini pada akhir 2017,” katanya.
Pada putaran sebelumnya, kedua negara lebih fokus menyamakan persepsi dan membahas draft teks di masing-masing working group (WG) dan berhasil menyepakati beberapa pasal. Pada putaran kali ini, pembahasan akan masuk pada isu yang paling substansial, yaitu, “Pembahasan permintaan dan penawaran pertama produk yang akan ditawarkan masing-masing negara,” ujar Iman.
Kedua negara juga telah melakukan pertemuan intersesi untuk membahas isu sanitari dan fitosanitari (SPS) dan technical barriers to trade (TBT). Isu-isu ini akan diselesaikan dalam perundingan selanjutnya pada Oktober 2017 di Chile.
Dibanding negara ASEAN lainnya, Indonesia kalah cepat dengan Vietnam, Malaysia dan Thailand. Mereka sudah terlebih dahulu menjalin kerjasama dan mendapatkan preferensi tarif melalui kesepakatan Free Trade Agreements (FTA) dengan negara Amerika Latin.
Kinerja perdagangan Indonesia - Chile sepanjang 2012-2016 mengalami penurunan sebesar 12,09%. Meskipun demikian, total perdagangan kedua negara meningkat sebesar 23,42%, dari USD 101,53 juta di tahun 2016 menjadi USD 125,30 juta di awal semester pertama 2017.
Komoditas ekspor unggulan Indonesia ke Chile adalah sepatu sandal dari bahan karet dan suku cadang kendaraan bermotor. Sedangkan komoditas impor Indonesia dari Chile adalah konsentrat bijih besi dan anggur.
Direktur Ekonomi Bilateral Chile Pablo Urria mengatakan Indonesia merupakan negara utama di kawasan Asia Tenggara. Dia berharap Indonesia juga akan menanamkan investasi di negaranya.
“Pengalaman kami, setelah membuka pasar baru, saat itu juga kami mengundang investasi masuk,” ujarnya.