İqbal Musyaffa
19 September 2018•Update: 20 September 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan walaupun nilai tukar rupiah terhadap dolar masih fluktuatif dan cenderung tertekan, namun ketahanan ekonomi Indonesia masih kuat.
Kondisi ekonomi saat ini bahkan jauh lebih baik ketimbang periode krisis tahun 1998 ataupun 2008, kata Direktur Eksekutif Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi dalam diskusi mengenai rupiah di gedung DPR MPR di Jakarta, Rabu.
Doddy mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah hingga 17 September terdepresiasi 8,88 persen. Persentase ini, sebut dia, masih jauh lebih baik dari 2008 yang mencapai 35 persen dan 1998 dengan pelemahan rupiah hingga 197 persen.
“Sejauh ini kita cukup mampu menjaga depresiasi rupiah yang tidak terlalu beda jauh dengan negara peer kita,” ungkap Doddy.
Dengan situasi saat ini, Doddy menilai Indonesia relatif masih bisa bersaing. Meski, lanjut dia, depresiasi masih akan terus terjadi selama defisit transaksi berjalan (CAD) belum bisa diturunkan.
“BI terus berupaya mengendalikan CAD tanpa membuat pertumbuhan ekonomi melambat,” tegas Doddy.
Indikator ketahanan ekonomi Indonesia lainnya, menurut dia, juga jauh lebih baik dari periode krisis 10 dan 20 tahun yang lalu. Inflasi pada tahun ini sebesar 3,2 persen hingga Agustus, sementara pada tahun 2008 inflasi mencapai 12,1 persen dan pada 1998 lebih parah -- hingga 82,4 persen.
Dari sisi cadangan devisa, lanjut Doddy, tahun ini lebih baik meskipun terus berkurang akibat dari intervensi yang dilakukan BI di pasar valas dan SBN untuk menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah.
Hingga Agustus, cadangan devisa tercatat sebesar USD117,9 miliar. Sementara pada 2008 hanya USD50,2 miliar dan tahun 1998 sebesar USD17,4 miliar saja.
Rasio utang luar negeri Indonesia terhadap cadangan devisa pada tahun ini juga hanya 3 kali dari cadangan devisa. Pada tahun 2008, rasio utang luar negeri sebanyak 3,1 kali dari cadangan devisa. Tahun 1998, kondisinya lebih parah dengan rasio utang luar negeri mencapai 8,6 kali dari cadangan devisa.
Rasio utang luar negeri pemerintah pada tahun ini, berdasarkan data BI, juga jauh lebih baik dari dua periode krisis tersebut dengan persentase 29,8 persen dari PDB meskipun sedikit lebih tinggi dari 2008 dengan persentase 27,4 persen.
Bila dibandingkan dengan 1998, kondisi saat ini jauh lebih baik, karena pada saat itu rasionya mencapai 100 persen dari PDB.
Secara keseluruhan, rasio utang luar negeri Indonesia terhadap PDB pada tahun ini sebesar 34,3 persen. Sementara tahun 2008 sebesar 33,2 persen dari PDB dan tahun 1998 rasionya mencapai 116,8 persen dari PDB.
Selanjutnya, rasio kredit macet di perbankan atau nonperforming loan (NPL) tahun ini juga hanya 2,7 persen, jauh lebih baik dari 2008 yang sebesar 3,8 persen dan tahun 1998 yang mencapai 30 persen.