Iqbal Musyaffa
13 Maret 2020•Update: 16 Maret 2020
JAKARTA
Pemerintah mengatakan risiko global yang disebabkan oleh penyebaran virus korona semakin tinggi, terlebih lagi World Health Organization (WHO) sudah menetapkan status pandemik global terkait kasus ini.
Oleh karena itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kondisi saat ini telah melewati skenario risiko menengah (scenario mild) menuju skenario risiko yang lebih tinggi.
Menteri Sri Mulyani juga sedang menyiapkan skenario risiko yang baru, sejalan dengan ekonomi China yang diproyeksi akan mengalami resesi, karena selama dua kuartal berturut-turut diperkirakan mengalami penurunan ekonomi.
Pada skenario risiko menengah sebelumnya disebutkan bahwa setiap 1 persen penurunan ekonomi China, akan berdampak pada penurunan ekonomi Indonesia sebesar 0,3 hingga 0,6 persen.
“Skenario akan terus kita kembangkan dan update ke Presiden tentang kondisi yang terjadi,” ujar Menteri Sri Mulyani dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Dia mengatakan pemerintah menyusun respon yang terukur sebagai antisipasi karena risiko menengah sudah lewat dan menuju risiko lebih tinggi.
Menteri Sri Mulyani menambahkan saat ini sedang menahan diri untuk memberikan proyeksi ekonomi Indonesia karena kondisi global yang masih dinamis dan fluktuatif.
Akan tetapi, dia memastikan untuk selalu memperhatikan kondisi dan situasi global serta dampaknya terhadap perekonomian domestik.
“Setiap saat ada saja perkembangan baru, bagaimana negara-negara bereaksi dalam mengelola kasus merebaknya virus korona, sehingga yang bisa dilakukan adalah develop scenario dan develop contingency plan (rencana kemungkinan),” urai Menteri Sri Mulyani.
Dia menambahkan kondisi tersebut yang membuat dia menolak untuk menyampaikan estimasi pertumbuhan ekonomi untuk triwulan I dan juga sepanjang tahun 2020 ini akibat penyebaran virus korona.
“Kita coba menahan diri dulu untuk buat proyeksi growth. Tapi saya tahu banyak institusi-institusi lembaga investasi mengeluarkan skenario. Dalam satu minggu ubah lagi, direvisi lagi,” lanjut dia.
Namun, Menteri Sri Mulyani menegaskan bahwa pada kuartal I 2020 ekspor maupun impor Indonesia akan mengalami tekanan akibat penyebaran virus korona yang sudah menjangkiti 69 orang di Indonesia, sehingga akan berdampak besar pada neraca perdagangan.