İqbal Musyaffa
24 Mei 2018•Update: 24 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Para pengembang properti yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) DPD DKI Jakarta mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menghantam mereka bila sudah menyentuh titik Rp15 ribu.
“Bila nilai tukar sampai Rp15 ribu atau bahkan Rp16 ribu, akan terasa tekanan terutama bagi pengembang besar yang punya pinjaman dalam USD. Karena dulu mereka meminjam saat kurs Rp12 ribu-Rp13 ribu,” ungkap Sekretaris Jenderal REI DKI Jakarta Arvin Iskandar dalam diskusi bersama media di Jakarta, Rabu.
Berdasarkan data survei REI DKI, terdapat 22 persen dari total 335 anggota REI DKI yang disurvei menganggarkan belanja modal (capital expenditure) pada tahun 2018 hingga lebih dari Rp900 miliar.
“Kelompok ini akan menjadi yang paling terpukul oleh depresiasi rupiah,” jelas Arvin.
Menurut dia, hal tersebut karena mayoritas pembiayaan belanja modal pengembang berasal dari perbankan dan pinjaman luar negeri. Pengembang tersebut harus membayar utang dalam dolar AS sementara penghasilan mereka rata-rata menggunakan rupiah.
Arvin berharap agar pemerintah dan Bank Indonesia dapat menjaga depresiasi nilai tukar rupiah sehingga tidak melampaui maksimal Rp16 ribu. Angka Rp16 ribu, menurut dia, dijadikan sebagai titik krusial oleh para analis. Karena apabila rupiah mencapai titik itu, maka nilai tukar diprediksi akan bisa meluncur hingga Rp20 ribu per dolar AS.
“Kita masih belum tahu ekuilibrium baru dalam perekonomian nanti akan menuju ke mana,” ungkap Arvin.
Dalam survei REI DKI disebutkan, untuk tahun 2018 para pengembang sudah menganggarkan belanja modal dengan jumlah yang relatif besar. Sebanyak 33 persen di antaranya menganggarkan Rp100 miliar hingga Rp500 miliar untuk pengembangan usaha.
Sementara 31 persen lainnya menganggarkan belanja modal di bawah Rp100 miliar dan 9 persen anggota mengalokasikan belanja modal dalam kisaran Rp500 miliar-Rp900 miliar.
Wakil Ketua Bidang Riset dan Luar Negeri DPD REI DKI Jakarta Chandra Rambey mengatakan, pelemahan rupiah terlebih dahulu akan menghantam daya beli masyarakat sehingga menunda untuk membeli properti. Hal ini berdampak pada berkurangnya kinerja penjualan pengembang.
Setelah itu, menurut Chandra, akan berdampak pada penyesuaian anggaran belanja modal oleh pengembang. “Pengembang akan ambil posisi kalau ekonomi semakin tertekan sehingga anggaran capex (capital expenditure) akan dikurangi,” jelas Chandra.
Meski begitu, dalam survei REI DKI menunjukkan para pengembang masih menunjukkan optimisme. 34 persen anggota REI DKI yang disurvei menyatakan kondisi bisnis properti pada 2018 akan lebih baik dari 2017.
Sementara 55 persen pengembang menganggap kondisi tahun 2018 akan tetap sama dengan tahun sebelumnya.