İqbal Musyaffa
24 Mei 2018•Update: 24 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pengembang properti yang tergabung dalam asosiasi Real Estat Indonesia (REI) DPD DKI Jakarta masih menganggap pembangunan pusat perbelanjaan sebagai bisnis yang menjanjikan.
Sekretaris Jenderal DPD REI DKI Jakarta Arvin Iskandar kepada Anadolu Agency, Rabu, mengatakan meskipun penjualan ritel saat ini agak melambat akibat gempuran e-commerce, namun menurut dia hanya akan berlangsung temporer.
“Disrupsi ini hanya sementara sebagai efek dari euphoria perkembangan digital,” ungkap Arvin.
Pusat perbelanjaan seperti mal, menurut Arvin, masih akan menjadi salah satu destinasi masyarakat untuk berlibur dan bersenang-senang karena berkunjung ke mal sudah menjadi gaya hidup masyarakat.
“Di mal kan tidak harus belanja. Tapi bisa untuk makan-makan ataupun bertemu dengan banyak,” tambah dia.
Terlebih lagi, Arvin mengatakan pertumbuhan banyak kawasan residensial baru pasti membutuhkan adanya minimal satu pusat perbelanjaan yang besar sebagai daya tarik penjualan.
Sementara itu, Ketua DPD REI DKI Amran Nukman mengatakan pembangunan pusat perbelanjaan yang dilakukan oleh pengembang REI DKI mulai melebar ke banyak wilayah lainnya.
Berdasarkan survei yang dilakukan REI DKI terhadap 335 dari total 350 anggotanya, sekitar 75 persen anggota REI DKI membangun mal di wilayah Jakarta. Kemudian sisanya tersebar di Bandung dengan persentase 11 persen, Bekasi dan Depok sebanyak 4 persen, selanjutnya Balikpapan dan Palembang dengan 3 persen sisanya.
“Itu keadaaan natural, selain juga karena adanya moratorium pembangunan mal di Jakarta. Dulu mal terpusat di Jakarta dan sekarang mulai melebar,” ungkap Amran.
Meluasnya pembangunan mal di wilayah lainnya menurut dia untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat di wilayah lainnya untuk pusat perbelanjaan sehingga tidak perlu datang ke Jakarta hanya sekedar untuk ke mal.
Amran menambahkan, sekitar 32 persen dari 335 anggotanya yang disurvei menghabiskan Rp301 miliar hingga Rp500 miliar untuk membangun pusat perbelanjaan. Bahkan 11 persen lainnya menghabiskan hingga lebih dari Rp900 miliar untuk membangun pusat perbelanjaan.
Selanjutnya, 69 persen pengembang REI DKI membangun pusat perbelanjaan dengan luas lahan lebih dari 2 hektar. Kemudian 48 persen pengembang membangun mal kelas menengah dan 48 persen lainnya membangun mal kelas atas.
“Ini menunjukkan bahwa pembangunan pusat belanja masih menjanjikan,” ungkap dia.