08 Agustus 2017•Update: 08 Agustus 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Minat masyarakat dan kalangan industri Indonesia terhadap jamu dan obat-obatan tradisional masih tinggi. Hanya perlu konsistensi dan menyesuaikan dengan permintaan pasar agar produk jamu bisa bertahan. Begitu kata Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Dwi Ranny Pertiwi, saat dihubungi Anadolu Agency, Selasa.
Perusahaan farmasi, kata Ranny, juga mulai memproduksi jamu untuk diversifikasi produknya.
“Apalagi pemerintah juga sedang memasukkan jamu untuk bisa masuk terjamin dalam BPJS [Badan Pengelola Jaminan Sosial] Kesehatan dan ke Puskesmas,” ujarnya.
Dengan demikian, permintaan jamu di masyarakat akan lebih tinggi pada tahun-tahun mendatang.
Terbuat dari rempah- rempah dan tanaman herbal, masyarakat masih banyak yang mengonsumsi jamu karena mereka percaya jamu bida menjaga kesehatan tubuh dan mengobati bermacam penyakit. Menurut Ranny, “keputusan pailit PN Semarang terhadap pabrik jamu Nyonya Meener tidak membawa signifikan bagi industri jamu nasional”.
Perkembangan positif lain adalah pengusaha jamu Indonesia sudah mulai mengekspor produknya ke Tiongkok. Padahal, negara ini dikenal sebagai pusatnya obat-obatan tradisional sehingga sulit dimasuki produk sejenis dari negara lain.
“Artinya ada apresiasi yang tinggi terhadap jamu Indonesia. Tiongkok ini biasanya sulit sekali masuknya,” ucap Ranny.
Industri jamu di Indonesia juga sudah banyak melakukan inovasi untuk mempertahankan pasarnya kini. Mereka menggunakan mesin-mesin canggih, tidak lagi memakai alat penumpuk tradisional. Produknya yang semula hanya serbuk rempah-rempah dan bahan lain, kini sudah berganti menjadi ekstrak.
Semua ini adalah cara untuk menjaga dan memperbaiki kualitas jamu, sehingga bisa mendapat kepercayaan dari konsumen. Selain konsumen dalam negeri, menurut Ranny, masyarakat asing juga sudah mulai mengonsumsinya. Ini artinya, lanjut Ranny lagi, “mereka sudah tidak ragu-ragu lagi dengan produk jamu Indonesia. Standar di sini sudah ketat dan bagus.”
Laporan dari Kementerian Perindustrian, industri jamu nasional tumbuh 10 persen dibanding tahun lalu. Saat ini adalah sekitar 986 produsen jamu, yang terdiri dari 102 perusahaan Industri Obat Tradisional (IOT) dan 884 lainnya merupakan Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT). Industri ini tersebar di seluruh Indonesia, namun sebagian besar di Pulau Jawa.
Industri ini menyerap lebih dari 15 juta tenaga kerja, tiga juta di antaranya terserap di industri jamu yang berfungsi sebagai obat. Sedangkan 12 juta orang lainnya terserap di industri jamu yang telah berkembang ke arah makanan, minuman, kosmetik, spa, dan aromaterapi.