İqbal Musyaffa
09 Desember 2019•Update: 10 Desember 2019
JAKARTA
Analis menilai upaya perusahaan rintisan atau start up kecil yang berniat untuk mencari pendanaan melalui pasar modal masih menghadapi berbagai kendala, walaupun tren mendapatkan pendanaan dari pasar modal kian diminati.
Direktur perusahaan investasi Anugrah Mega Investama, Hans Kwee mengatakan, tidak setiap perusahaan rintisan memiliki peluang untuk memperoleh kepercayaan investor untuk mendapatkan pendanaan melalui initial public offering (IPO) di bursa Indonesia.
Akan tetapi, Kwee menilai tantangan tersebut bisa menjadi peluang apabila start up yang ingin IPO memiliki model bisnis yang menjanjikan, terutama bila memiliki bisnis yang sesuai dengan kebutuhan pasar seperti untuk kalangan milenial.
“Saat ini otoritas bursa membuka pintu selebar-lebarnya untuk berbagai perusahaan, termasuk perusahaan start up, dalam mendapatkan dana segar melalui IPO di bursa efek,” ujar Kwee kepada Anadolu Agency di Jakarta, Senin.
Akan tetapi, dia mengatakan perusahaan tersebut harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh otoritas bursa yang juga membutuhkan biaya untuk proses IPO.
“Biasanya jika go public maka laporan keuangan harus diaudit, menunjuk notaris, lalu konsultan hukum, dan menyiapkan dokumen tentang prosedur pendaftaran hingga underwriter. Ini tentu jadi masalah bagi perusahaan tertentu, karena biayanya yang lumayan tinggi untuk melakukan go public,” kata Kwee.
Kwee menyontohkan proses kerja untuk IPO bagi perusahaan start up berukuran kecil dengan nilai Rp10 miliar dan start up berukuran relatif besar dengan nilai Rp300 miliar relatif sama, namun pendanaan yang didapatkan bisa berbeda.
“Ini adalah tantangan dan kita harus memahami banyaknya aturan yang ada akan menghalangi start up kecil untuk go public,” kata Kwee.
Meski demikian, Kwee melihat perusahaan start up kecil dapat sukses dalam melakukan IPO bila dilihat dari bisnis yang dijalankannya, seperti start up bidang properti co-living PT Hoppor International (Kamar Keluarga) yang trennya mengalami perkembangan yang pesat.
Sementara itu, Senior Advisor CSA Research Institute Reza Priyambada menegaskan perusahaan yang hendak IPO tidak perlu khawatir selama perusahaan tersebut merespons kebutuhan dari pasar, maka potensi untuk menjadi besar sangat terbuka lebar.
“Perusahaan start up co-living harus melihat potensi dari target pasar yang mereka bidik dan seberapa lama tren ini bisa bertahan. Antisipasinya adalah dengan punya banyak model bisnis yang menyasar milenial awal, kemudian menyasar level eksekutif muda, akan lebih variatif dan stabil,” jelas Reza.
Menurut dia, perusahaan start up bidang properti seperti ini sangat memungkinkan melantai di bursa dengan menyasar berbagai kalangan mulai dari milenial yang tadinya cukup dengan menyewa hunian, bisa diakomodir saat ingin punya rumah sendiri sehingga bisnisnya bersifat berkepanjangan.
CEO Kamar Keluarga Charles Kwok menerangkan saat ini pihaknya sedang mempersiapkan diri untuk melakukan IPO. Sebagai start up yang bergerak di sektor properti, perusahaan ini mengklaim memiliki pilar bisnis yang menarik untuk para investor.