Iqbal Musyaffa
29 September 2017•Update: 01 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah Jepang sejak tahun 2013 hingga
saat ini sudah menyalurkan subsidi sebesar USD37 juta untuk proyek pembangunan
rendah karbon di Indonesia dalam kerangka kerja sama Joint Crediting Mechanism
(JCM).
Jumlah tersebut disampaikan oleh Ketua Komisi
Bersama JCM Indonesia sekaligus Asisten Deputi Bidang Kerja Sama Multilateral
dan Pembiayaan Kementerian Koordinator Perekonomian Edwin Manansang, Jumat.
Lebih lanjut, melalui skema kerja sama ini,
pihak swasta Indonesia sudah berkontribusi sebesar USD 113 juta untuk proyek
pembangunan rendah emisi di Indonesia.
“Sehingga total nilai investasi yang tercipta melalui skema JCM mencapai lebih dari USD 150 juta,” ungkap Edwin.
Edwin juga menjelaskan bahwa JCM merupakan
kerja sama G to G (Government to Government) atas inisiatif pemerintah Jepang
yang dimulai tahun 2013 yang mendorong organisasi-organisasi swasta Jepang
untuk berinvestasi dalam kegiatan pembangunan rendah karbon di Indonesia.
Dalam skema ini, Pemerintah Jepang dapat
memberikan subsidi hingga 50 persen dari nilai proyek pembangunan rendah karbon
di Indonesia.
Kerja sama dengan skema JCM juga dilakukan
pemerintah Jepang di 15 negara lainnya seperti Vietnam, Mongolia, Palau,
Meksiko, Arab Saudi, Thailand, Kosta Rika, Laos, Kamboja, Kenya, Cili, Myanmar,
Bangladesh, Ethiopia, dan Maladewa. Namun, kerja sama JCM di Indonesia memiliki
implementasi terbaik di antara negara-negara lainnya.
“Kerja sama ini akan berlangsung hingga 2020 dan kemungkinan akan diperpanjang,” jelas Edwin.
Hingga saat ini, ungkap dia, sebanyak 29 proyek di Indonesia sudah dibiayai melalui skema JCM, sementara sekitar 108 proyek masih dalam tahap uji kelayakan (feasibility studies).
Proyek terbaru yang menggunakan subsidi
dari JCM adalah instalasi Solar Photovoltaic Rooftop di AEON Mall, Cakung,
Jakarta Timur, yang sekaligus menjadi proyek tenaga listrik panel surya pertama
di pusat perbelanjaan Indonesia.
“JCM memberikan porsi subsidi 33 persen dari nilai proyek pemasangan panel surya di mal ini,” ungkap Edwin tanpa mengungkap nilai proyeknya.
Pada kesempatan yang sama, Manager Group
ASEAN Construction Departmen AEON Mall Shim Hyungshik mengatakan AEON mal menggunakan
instalasi sistem energi surya dan penyimpanan baterai berkapasitas 500 KW.
Besaran suplai energi surya ini, sebut dia, mampu memasok hampir 10 persen dari penggunaan energi listrik sebesar 6 MW per hari di mal tersebut.
“Ini merupakan bentuk implementasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mampu mengurangi emisi karbon sebesar 549 ton CO2 per tahun,” ujar Hyungshik.
Menurut Hyungshik lagi, para pengusaha
harus mulai sadar dan peduli terhadap isu energi bersih rendah emisi karbon
serta perubahan iklim.
Pada saatnya nanti, ia meyakini
implementasi panel surya pada atap bangunan bukan hanya menjadi tren.
“Tetapi akan menjadi kebutuhan bagi efisiensi pemanfaatan energi di pusat perbelanjaan,” ujarnya yakin.