10 November 2017•Update: 13 November 2017
WASHINGTON
Amerika bergabung dengan PBB dan 22 badan bantuan lainnya untuk mendesak Arab Saudi mengakhiri blokade Yaman.
Juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert mengatakan kepada wartawan bahwa AS menilai bahwa akses untuk memberikan bantuan kemanusiaan ke Yaman harus segera dibuka dan tidak dihalangi.
“Ada keresahan pangan yang luar biasa di Yaman saat ini. Beberapa mengatakan bahwa ini bisa menjadi bencana kemanusiaan terbesar di dunia,” kata Nauert, Kamis.
"Orang-orang Yaman tidak bersalah atas situasi mereka saat ini."
Menanggapi serangan rudal di Riyadh oleh pemberontak Yaman akhir pekan lalu, Arab Saudi menutup semua pelabuhan udara dan laut Yaman pada hari Senin.
Tidak hanya itu, Arab Saudi juga memperketat blokade dan operasi bantuan kemanusiaan yang akan masuk ke negara tersebut. Arab Saudi menuding serangan itu dilakukan oleh Iran.
Riyadh dan Washington menuduh Teheran memasok rudal ke pemberontak Houthi yang telah menguasai wilayah utara Yaman, termasuk Ibu Kota, Sanaa.
Menurut PBB, ada lebih dari 20 juta orang yang saat ini membutuhkan bantuan kemanusiaan di Yaman.
Tujuh juta di antaranya menghadapi kondisi kelaparan dan bergantung sepenuhnya pada bantuan pangan untuk bertahan hidup.
“Dalam enam minggu, persediaan makanan untuk memberi makan mereka akan habis. Lebih dari 2,2 juta anak-anak kurang gizi dan 385 ribu anak-anak menderita kekurangan gizi parah dan memerlukan perawatan terapeutik untuk tetap hidup,” ungkap PBB bersama 22 badan bantuan lainnya dalam sebuah pernyataan.
Mereka juga menilai, stok vaksin yang tersedia di Yaman saat ini hanya akan bertahan hingga satu bulan ke depan.
“Jika tidak diisi ulang, wabah penyakit menular seperti polio dan campak akan menjadi sangat fatal, terutama untuk anak usia balita dan juga mereka yang sudah menderita kekurangan gizi.”
Badan internasional yang selama ini menyuplai bantuan ke Yaman juga menyebut bahwa penduduk setempat telah mengalami bencana dari sebuah konflik bersenjata.
“Serangan yang bisa mengganggu impor makanan dan bahan bakar dapat memutarbalikkan keberhasilan selama ini dalam mengurangi ancaman kelaparan dan penyebaran kolera.”
Sebelumnya, pada hari Rabu, seorang pejabat senior bantuan PBB mengatakan bahwa Yaman dapat menghadapi “kelaparan terbesar yang telah dialami dunia selama beberapa dekade ini, dengan korban jiwa hingga jutaan orang," jika koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi tidak mencabut blokade di sana.
Berbicara kepada wartawan setelah menggelar pertemuan tertutup dengan Dewan Keamanan PBB mengenai situasi di Yaman, Koordinator Bantuan Darurat Sekretaris Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinasi Darurat PBB Mark Lowcock memberi peringatan kepada negara-negara yang menghalangi pengiriman bantuan ke Yaman.
Serangan yang dipimpin oleh Saudi ini diketahui sudah dimulai sejak tahun 2015. Koalisi Arab Saudi awalnya menargetkan pemberontak Houthi, namun dalam perjalanannya Saudi diduga telah melakukan banyak pelanggaran hukum internasional.
Yaman sudah menjadi negara termiskin di dunia Arab sebelum konflik dimulai. Blokade tersebut dianggap kian memperburuk situasi kemanusiaan yang semakin mengerikan di sana.
Sejak Maret 2015, hampir 5.300 warga sipil terbunuh dan mendekati 9ribu luka-luka dalam perang Yaman. PBB telah menyebutkan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan akan jauh lebih tinggi.