Kaan Bozdogan
25 Agustus 2018•Update: 26 Agustus 2018
Kaan Bozdogan
COX'S BAZAR, Bangladesh
Lembaga bantuan Turki telah membuka dua pusat pendidikan untuk anak-anak di kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh.
Yayasan Sadakatasi yang berbasis di Istanbul membuka pusat pendidikan itu–yang masing-masing berkapasitas 70 anak–di kamp nomor 5 Balukhali di distrik Cox's Bazar, tempat sekitar 750.000 orang Rohingya berlindung dari kekerasan dan penganiayaan di negara tetangga Myanmar.
Para pejabat yayasan menggunting pita di pusat Musab Bin Umeyr dan Ikra, lalu sekelompok anak-anak membaca Al-Quran.
Mengekspresikan kegembiraan atas bantuan yang diberikan, anak-anak bersorak bersama-sama, "Turki!"
Menurut beberapa Muslim Rohingya, itu pusat pendidikan pertama di kamp.
Kelas dalam bahasa Inggris, Arab, dan Burma, serta matematika, akan diajarkan di pusat pendidikan tersebut. Anak-anak juga akan diajarkan Al-Quran, buku suci umat Muslim.
Sementara makanan untuk anak-anak akan dimasak di dapur yang dibangun dari bambu, tak jauh dari lokasi itu, dan anak-anak akan menikmati istirahat di taman bermain.
Rohingya korban persekusi
Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh militer negara Myanmar, menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA).
Dalam laporannya baru-baru ini, Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience, OIDA menaikkan perkiraan jumlah Rohingya yang terbunuh menjadi 23.962, ketimbang catatan Doctors Without Borders yang sebelumnya menyebutkan 9.400.
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dilemparkan ke dalam api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, menambahkan bahwa 17.718 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambah laporan itu.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, mayoritas anak-anak, dan perempuan melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh, setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas itu.
Rohingya, yang digambarkan PBB sebagai orang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan meningkat karena puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.
PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan–termasuk bayi dan anak kecil–pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar. Dalam laporannya, para penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.