Megiza Asmail
04 Oktober 2017•Update: 05 Oktober 2017
Megiza Asmail
JAKARTA
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, sangat mudah jika ingin memecah-belah Indonesia.
Dia menilai, banyaknya isu-isu yang membuat kisruh masyarakat membuat orang Indonesia lupa menyiapkan diri untuk menghadapi invasi teknologi dunia yang berkembang dengan pesat.
“Mudah membuat negara ini disintegrasi. Pecahin saja. Semuanya ingin jadi presiden. Tapi nanti kalau sudah pecah itu yang akan menjadi masalah,” kata Luhut pada Diskusi Panel UNDP Social Good Summit (SGS) di Jakarta, Rabu.
Dalam pertemuan itu, Luhut menceritakan pengalamannya saat bertugas di Timor Timur pada tahun 1975 silam sebagai contoh masalah yang bakal dialami jika sebuah negara terpecah.
“Pada tahun 1976 TNI men-deploy hampir 50 ribu tentara di Timor Timur. Apa kita mampu menaklukkan Timtim? Tidak mampu. Karena spirit mereka sangat besar untuk merdeka. Tapi kemudian setelah mereka merdeka karena referendum, sekarang pengangguran di sana sampai 60 persen. Ekonomi mereka pun parah,” ujar dia.
Timor Leste sah lepas dari Indonesia pada 30 Agustus 1999 melalui referendum yang disponsori PBB. Luhut menjelaskan, kondisi perekonomian negara tersebut kini mengalami permasalahan besar karena tidak dapat mengolah kekayaan alam dengan baik.
Timor Leste, kata Luhut, tidak berhasil membuat peraturan dalam pengolahan wilayah Timor Gap yaitu kawasan perairan antara Pulau Timor, Indonesia, dan Australia.
“Tujuh tahun yang lalu di Bali saya pernah ingatkan Pak Xanana untuk tidak main-main dalam Timor Gap, karena mereka punya minyak bisa habis. Kemarin dia mengeluh, ternyata semua dibawa ke Australia dan mereka hanya dapat anginnya saja. Dia bilang ‘kalau begini kita lebih enak gabung lagi dengan Indonesia’,” ungkap Luhut.
Mendengar pernyataan itu, Luhut mengaku hanya bisa menanggapi dengan ucapan terima kasih.
“Saya bilang ‘thank you very much’. Kita sudah banyak problem,” imbuh dia.
Sejarah Timor Leste itu, kata Luhut, seharusnya bisa membuat generasi muda Indonesia betul-betul mempersiapkan diri untuk menghadapi perkembangan teknologi dan tidak tergantung dengan negara-negara yang saat ini tengah berlomba-lomba masuk ke Indonesia membawa teknologi-teknologi terkini.
Dia memaparkan, ada tiga perkembangan teknologi yang telah dan akan mengubah kehidupan manusia yakni media sosial dan e-commerce, robotics dan software automation, serta kecerdasan buatan.
“Ini adalah hal yang paling berbahaya, tapi juga bagus jika kita bisa menggunakannya. Proses teknologi tidak akan berhenti. Yang membuat kita tidak hebat ya hanya kita sendiri. Karena itu kita harus kompak menjaga negara ini,” sebut Luhut.