Shenny Fierdha Chumaira
13 Februari 2018•Update: 14 Februari 2018
Shenny Fierdha
JAKARTA
Polisi sejauh ini menduga pelaku penyerangan di Gereja Santa Lidwina di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, pada Minggu pekan lalu beraksi sendiri alias lone wolf.
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengungkapkan bahwa pelaku penyerangan bernama Suliono (22) tersebut mempelajari secara otodidak dari internet hal-hal yang berkenaan dengan aksi terorisme atas keinginannya sendiri.
Sebelum penyerangan gereja terjadi, sebut Setyo, Suliono sempat menginap selama tiga hari di suatu musala dekat dengan lokasi kejadian.
"Dia kemudian mencari tahu di internet gereja apa yang berada di dekat posisinya saat itu, di mana dia bisa beli senjata," jelas Setyo di Jakarta, Selasa.
Selama menginap di musala, Suliono berkomunikasi dengan penjaga musala dan warga sekitar tapi tidak ada satu pun yang menaruh curiga.
"Saya melihat pelaku ini sepertinya pernah mengikuti suatu kelompok, organisasi keagamaan, yang paham dan akidahnya berbeda," ucap Setyo tanpa menyebutkan organisasi apa yang dia maksud.
Suliono diketahui kerap berpindah-pindah tempat; dia menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama di tempat asalnya yakni Banyuwangi (Jawa Timur), menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas di Morowali (Sulawesi Tengah), berkuliah di Palu (Sulawesi Tengah), dan baru-baru ini mengikuti suatu kelompok keagamaan di Magelang (Jawa Tengah).
Berbekal sebilah parang tajam, Suliono menyerang Gereja Santa Lidwina pada Minggu pagi ketika misa ekaristi sedang berlangsung.
Akibatnya, tiga orang jemaah, Pastor Karl Edmund Prier yang sedang memimpin misa, dan seorang anggota Kepolisian Sektor Gamping Ajun Inspektur Satu Munir terluka.
Polisi menembak Suliono di bagian kaki dan kini dia tengah dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Yogyakarta.