Rhany Chairunissa Rufinaldo
27 September 2018•Update: 28 September 2018
Ayhan Simsek
BERLIN
Presiden Turki menyerukan pembukaan lembaran baru dalam hubungan Turki-Jerman di tengah tantangan global yang baru.
"Perkembangan dramatis di dunia membuat pembukaan lembaran baru bagi hubungan bilateral Jerman dan Turki sangat diperlukan, dengan mengesampingkan perbedaan dan fokus pada kepentingan bersama," tulis Recep Tayyip Erdogan dalam sebuah artikel yang diterbitkan Rabu di Frankfurter Allgemeine Zeitung pada malam kedatangannya di Jerman.
Erdogan mengatakan kedua negara menghadapi tantangan dan ancaman serupa seperti terorisme, gerakan pengungsi ilegal dan perang dagang.
"Kami berkewajiban meningkatkan hubungan berdasarkan kepentingan bersama dengan cara yang wajar," tegasnya.
“Mari kita berkonsentrasi pada kepentingan bersama kita, tantangan dan ancaman bersama yang kita hadapi. Sehubungan dengan ketidaksetujuan, kita harus menjaga semua saluran dialog tetap terbuka, melanjutkan pertukaran dan menunjukkan empati secara maksimal, kita harus mencoba memahami kepekaan timbal balik,” tambahnya.
Erdogan tiba di Jerman pada Kamis untuk kunjungan kenegaraan yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan politik dan ekonomi antara kedua negara.
Selama kunjungan tiga harinya, Erdogan akan bertemu dengan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier dan akan berbicara dengan Kanselir Angela Merkel.
Dalam artikelnya, Presiden Erdogan memperbarui ajakannya pada otoritas Jerman untuk menunjukkan lebih banyak solidaritas dengan Turki dalam perjuangan melawan kelompok-kelompok kriminal dan teroris.
"Kami mengharapkan Jerman dapat memperluas dukungannya kepada Turki dalam perjuangan melawan kelompok-kelompok teroris seperti FETO, PKK dan DHKP-C, yang juga merupakan ancaman terhadap keamanan domestik Jerman dan menargetkan warga Jerman," katanya.
Dia juga memperingatkan tentang kegiatan propaganda para pengikut PKK dan FETO di Jerman.
"Anggota PKK dan FETO dan organisasi mereka menggunakan berbagai instrumen, termasuk manipulasi dan berita palsu, untuk merusak hubungan bilateral kami," katanya.
Keengganan Jerman untuk mengambil tindakan serius terhadap kelompok-kelompok teroris seperti PKK dan Organisasi Teror Fetullah (FETO) telah menjadi sumber ketegangan antara kedua negara dalam dua tahun terakhir.
Kedua kelompok teroris itu menggunakan Jerman, yang merupakan rumah bagi lebih dari 3 juta migran dari Turki, sebagai platform untuk kegiatan penggalangan dana dan rekrutmen propaganda mereka.
Hubungan antara Ankara dan Berlin telah mengalami kemunduran dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kedua pihak telah mengambil langkah-langkah dalam beberapa bulan terakhir untuk meningkatkan hubungan.
Erdogan akan ditemani oleh para penasihat selama kunjungannya, termasuk para menteri yang bertanggung jawab atas ekonomi, keuangan, perdagangan, dan industri.
Sebagai negara kuat di Uni Eropa, Jerman tetap menjadi mitra ekonomi dan perdagangan utama Turki. Pada 2017, volume perdagangan bilateral mencapai EUR37,6 miliar (USD43,6 miliar).