Pizaro Gozali
PANDEGLANG
Yanto tak bisa berkata apa-apa saat anaknya yang berumur tiga tahun bertanya kapan dapat melaut lagi.
Anak si mata wayangnya itu selama ini setia mengikutinya guna memburu ikan di tengah lautan.
Meski berumur tiga tahun, bocah lelaki itu pantang mundur menerjang ombak besar untuk menjala ikan.
"Sekarang dia suka bertanya kapan dapat melempar jaring lagi," ujar pria berumur 36 tahun itu saat berbincang dengan Anadolu Agency di Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten.
Yanto menuturkan kejadian hempasan tsunami yang menghancurkan kapalnya berlangsung begitu cepat.
Warga asli Labuan, yang kini tinggal di posko pengungsian bersama istri dan anaknya itu, tengah mendirikan salat Isya di kapal sesaat sebelum tsunami.
Kala itu, dia sedang mengunjungi rumah kakaknya tak jauh dari lokasi kapal di Labuan.
Tak lama berselang, suara gemuruh ombak datang memekakkan telinganya.
Yanto bergegas keluar rumah untuk memastikan apa yang terjadi di lautan.
Hasilnya, amukan tsunami dibayangi lava merah hasil erupsi Anak Gunung Krakatau terpampang jelas di depan wajahnya.
“Tsunami datang dalam hitungan detik,” terang Yanto mengembalikan ingatannya.
Yanto lantas memacu kakinya sekuat mungkin untuk menjauhi terjangan gelombang tinggi yang meluluhlantakkan daratan
Akibat kejadian itu, Yanto harus rela melepaskan perahunya diamuk gelombang tsunami.
Harga perahunya tidak murah. Setidaknya ia harus merogoh kocek hingga Rp150 juta untuk mendapatkan kapal kayu itu. Dari situlah, Yanto menafkahi istri dan anak balitanya.
“Sekarang saya sudah tidak bisa melaut karena tak punya kapal,” tutur Yanto.
Dalam pantauan Anadolu Agency, daerah Labuan termasuk wilayah yang parah terkena dampak tsunami.
Sejumlah rumah yang tepat berada di depan bibir pantai kini sudah tak berbekas.
Bangunan-bangunan itu kini telah berubah menjadi onggokan kayu dan puingan tembok yang hancur.
Kondisi serupa juga terjadi terhadap kapal-kapal nelayan. Perahu-perahu itu sebagian besar terhempas ke daratan akibat invasi tsunami.
Sedangkan kapal-kapal tersisa di lautan dibiarkan mengambang oleh para nelayan karena khawatir tsunami susulan.
Suasana laut yang biasanya ramai dengan aktivitas pencarian ikan, kini telah sepi. Lautan kini hanya diisi suara ombak-ombak tinggi yang silih berganti menghantam bebatuan.
Kini warga Labuan pergi mengungsi di posko-posko pengungsian untuk mendapatkan bantuan
Mereka tidur di tenda-tenda darurat di tengah hujan deras yang terus mengguyur wilayah Labuan sepanjang hari. Di situlah Yanto bersama ribuan warga Labuan lainnya kini tinggal.
Berharap bantuan
Yanto kini berharap pemerintah mau turun tangan membantu para nelayan yang kehilangan mata pencaharian.
Apalagi kasus yang menimpa Yanto turut dirasakan ratusan nelayan.
“Saya ingin bisa melaut lagi,” pinta Yanto sederhana.
Kebingungan serupa juga dialami Ahmad Sulaiman.
Pria asli Brebes berusia 36 tahun ini mengaku tak bisa lagi melaut karena kapalnya hancur lebur dihantam tsunami.
Ahmad selama ini menjadi nelayan untuk menafkahi istri dan dua buah hatinya.
Ahmad dikaruniai dua anak laki-laki yang kini masing-masing berusia 13 tahun dan tujuh bulan.
Anak pertama Yanto saat ini menduduki bangku kelas satu tingkat menengah pertama.
“Kalau si bungsu masih sangat kecil,” ujar Ahmad kepada Anadolu Agency di lokasi pengungsian bersama istri dan kedua anaknya.
Kemalangan Ahmad harus diperparah dengan kehilangan rumahnya di pantai Labuan.
Rumahnya rata dengan tanah akibat hantaman tsunami pada Sabtu malam
“Jarak rumah saya dengan pantai hanya sepuluh meter,” terang Ahmad.
Ahmad, yang selama ini melaut ke wilayah Sumur, Kabupaten Pandeglang, meminta pemerintah mau mengembalikan pekerjaannya dan membangunkannya rumah.
“Saya masih bersyukur tak ikut kehilangan keluarga,” tukas Ahmad.
news_share_descriptionsubscription_contact


