Faruk Zorlu, S. Ahmet Aytac
ANKARA
Duta Besar Sri Lanka untuk Ankara mengatakan, kekerasan komunal yang telah memicu pemberlakuan masa darurat di negaranya akan segera berakhir.
"Selama beberapa hari terakhir, Sri Lanka diliputi kekerasan yang telah menelan sejumlah nyawa. Seorang korban berasal dari komunitas Buddha Sinhala, dan dua lainnya berasal dari komunitas Muslim," jelas Pakeer Mohideen Amza, Kamis.
Dari jumlah penduduk sebanyak 22 juta jiwa, hampir 75 persen warga Sri Lanka termasuk dalam komunitas mayoritas Sinhala, 13 persen Tamil, dan 10 persen Muslim.
Mengenai langkah-langkah untuk mengendalikan kekerasan di negaranya, Amza mengatakan: "Saya optimistis bahwa kami dapat mengendalikan kekacauan ini sepenuhnya,"
Sejauh ini, polisi Sri Lanka telah menangkap 81 orang yang diduga menghasut kekerasan.
"Saat ini kami mengupayakan segala tindakan untuk menghentikan kekacauan ini. Kami juga telah mengirim pasukan tambahan dan tim investigasi kriminal," kata dia.
Menurut Amza, masa darurat di Sri Lanka akan berlangsung selama tujuh hari. Selain itu, kelompok-kelompok dari semua agama telah diminta untuk tetap tenang dan tidak mudah terhasut.
"Para pemimpin agama Buddha, Muslim, Kristen dan Hindu telah menyerukan satu suara, dengan mengatakan bahwa mereka semua harus menghentikan kekacauan ini, sehingga semua harus bersikap tenang dan menghormati orang lain," tambahnya.
Menurut Amnesty International, pada 5 Maret, segerombolan orang membakar rumah, pertokoan, dan masjid milik komunitas Muslim setempat di area Digana, kota Kandy.
Kementerian Luar Negeri Turki juga mengecam kekerasan komunal tersebut.
"Kami prihatin dengan tindakan kekerasan baru-baru ini di berbagai wilayah di Sri Lanka yang dilakukan terhadap kelompok Muslim dan harta benda mereka," kata kementerian Turki lewat pernyataan tertulis yang dirilis Selasa.
news_share_descriptionsubscription_contact
