Megiza Asmail
JAKARTA
Sosok Maria Katarina Sumarsih bagai simbol Aksi Kamisan yang rutin digelar tiap pekan di depan Istana Negara sejak sepuluh tahun lalu. Rambutnya yang putih dan tubuh mungilnya selalu tampak berdiam diri di bawah payung tanpa bicara dan tanpa suara bersama kawan-kawan senasib dari Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK).
Tidak ingin dilupakan dan berharap dapat mengingatkan pemerintah akan kasus-kasus pelanggaran Hak Azasi Manusia yang tak kunjung diungkap, Sumarsih mengaku sudah tak lagi sedih atas kematian anaknya, yang ditembak saat demonstrasi mahasiswa 13 November 1998 silam.
BR Norma Irawan atau Wawan tewas saat turun ke jalan bersama mahasiswa-mahasiswa dari seluruh Jakarta yang menuntut reformasi kala itu. Sumarsih pun setiap hari selalu menyempatkan diri mengunjungi kuburan anaknya di TPU Joglo pasca insiden itu.
Meski tak lagi merasakan kesedihan karena ditinggal mati oleh anaknya, dia mengaku masih ingat dengan jelas situasi setelah peristiwa berdarah 19 tahun silam itu. Sembilan tahun kemudian, Sumarsih pun turun ke jalan.
Masih tersimpan dengan baik di kepala Sumarsih betapa dia selalu diikuti oleh intel berpakaian preman. Nama-nama dokter visum yang menangani jenazah anaknya hingga pihak kepolisian yang menangani laporan keluarganya.
“Kami memang waktu itu mengalir begitu saja. Tapi saya ingin tahu kenapa Wawan ditembak? Seperti apa sebenarnya aparat TNI dan Polri menjaga mahasiswa pada saat demonstrasi? Makanya kemudian saya ikut aksi. Saya ingin mewujudkan agenda perjuangan Wawan,” kata Sumarsih. “Bagi saya hidup dan mati itu ada di tangan Tuhan bukan di tangan peluru,” imbuhnya.
Melanjutkan perjuangan anak laki-lakinya itu pun sebenarnya tak hanya dilakukan oleh Sumiarsih. Suami dan anak perempuannya ternyata turut ambil bagian dalam melanjutkan misi Wawan.
Setiap pekan, di akhir aksi Kamisan, akan dikirimkan surat untuk Presiden. Surat itu secara bergilir dibuat oleh peserta Kamisan. Arief Priyadi, istri Sumarsih, menjadi petugas yang mengedit surat tersebut.
Sedangkan adik Wawan, BR Irma Nurmaningsih, punya tugas untuk membuat media promosi seperti selebaran atau unggahan digital yang akan disebar di area aksi ataupun media sosial.
Di tempat berbeda, Suciwati, mengaku perlu proses yang agak panjang untuk meredakan amarah anak laki-lakinya. Pembunuh Munir Said Thalib, yang tewas diracun arsenik dalam perjalanan ke Belanda pada 7 September 2004, Pollycarpus Budihari Priyanto memang sudah diganjar hukuman penjara.
Namun, bagi Suciwati, hukuman itu belum bisa membuatnya berpuas hati terhadap pemerintah. Pasalnya, kemarahan yang masih ada di dalam hati anak-anaknya akan tetap ada selama pemerintah belum juga mengungkap alasan suaminya dibunuh.
“Anak saya sedikit menolak ketika kami membicarakan soal ini. Kemarahan masih ada. Ruang ketidakadilan begitu nyata. Apalagi kasus Abahnya terasa sengaja memperlihatkan keadilan yang dirobek-robek. Saya mengajarkan mereka untuk tidak lelah,” kata Suciwati.
news_share_descriptionsubscription_contact

