Rıskı Ramadhan
27 Maret 2018•Update: 28 Maret 2018
Cansu Dikme
ANKARA
Turki pada Senin mengecam serangan racun terhadap mantan mata-mata Rusia di Inggris.
"Turki menganggap penggunaan senjata kimia sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, melihat serangan di Inggris dalam kerangka itu dan mengutuknya," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy dalam sebuah pernyataan.
“Turki sepakat dengan pernyataan Dewan Atlantik Utara pada 14 Maret. Pandangan Turki tentang serangan ini juga telah diungkapkan dalam Organisasi untuk Keamanan dan Kerja sama di Eropa, Konferensi Perlucutan Senjata dan rapat Dewan Eropa,” tambah dia.
Aksoy juga mengatakan bahwa para pelaku harus dibawa ke pengadilan sesegera mungkin.
Pada Senin, 14 negara anggota UE mengusir puluhan diplomat Rusia dalam reaksi yang terkoordinasi terhadap peracunan mantan mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya Yulia di Inggris.
Sedikitnya 45 diplomat Rusia telah diusir di seluruh Eropa sejauh ini.
Amerika Serikat juga mengusir 60 diplomat serta memerintahkan penutupan konsulat Moskow di Seattle.
Deputi Perdana Menteri sekaligus juru bicara pemerintah Turki Bekir Bozdag pada Senin mengatakan bahwa Turki tidak berencana untuk mengambil tindakan terhadap Rusia.
“Turki dan Rusia memiliki hubungan yang positif dan baik. Dalam hal ini, Turki tidak berencana mengambil keputusan apa pun terhadap Rusia, ”kata Bozdag setelah pertemuan kabinet di ibu kota Ankara.
Pada 4 Maret, mantan mata-mata Rusia Sergei Skripal (66) dan putrinya Yulia (33) dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan tidak sadarkan diri di kota Salisbury, Inggris.
Pejabat-pejabat Inggris menuding Rusia atas insiden tersebut, namun tuduhan itu disangkal oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.
London meneyebut serangan itu dilakukan menggunakan gas saraf Perang Dingin era Soviet yang disebut Novichok.
Skripal memperoleh perlindungan di Inggris setelah pertukaran mata-mata pada 2010 antara AS dan Rusia. Sebelum pertukaran terjadi, ia dipenjara selama 13 tahun karena membocorkan informasi kepada intelijen Inggris.
Pekan lalu, setelah KTT Uni Eropa di Brussels, Inggris, Jerman, dan Perancis kembali menegaskan bahwa Rusia bertanggung jawab atas peracunan gas saraf terhadap Skripal dan putrinya.