Nicky Aulia Widadio
24 September 2020•Update: 25 September 2020
JAKARTA
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga 11 Oktober 2020.
PSBB yang saat ini berjalan akan berakhir pada 27 September 2020, namun Anies mengatakan masih ada potensi kenaikan kasus Covid-19 sehingga perlu diperpanjang selama dua minggu lagi.
Anies melanjutkan, perpanjangan ini juga telah disetujui oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Kebijakan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.
“Menko Kemaritiman dan Investasi menunjukkan data bahwa Jakarta telah melandai dan terkendali, tetapi kawasan Bodetabek masih meningkat, sehingga perlu penyelarasan langkah-langkah kebijakan,” kata Anies melalui siaran pers, Kamis.
Menurut dia, penambahan kasus aktif telah menurun dari 49 persen pada awal September menjadi 12 persen pada pertengahan September. Sedangkan kasus kematian masih meningkat.
“Tingkat kematian saat ini sebesar 2,5 persen,” ujar dia.
Jakarta juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk menekan angka keterpakaian ruang isolasi dan ICU di rumah sakit rujukan Covid-19 hingga di bawah 60 persen.
Tempat tidur isolasi di Jakarta terisi sebanyak 81 persen, sedangkan ruang ICU terisi 74 persen hingga 23 September 2020.
Selain itu, angka reproduksi virus Covid-19 (Rt) di Jakarta juga telah menurun dari 1,14 menjadi 1,10. Artinya, 100 orang yang terinfeksi bisa menularkan kepada 110 orang lainnya.
Pemerintah menargetkan agar angka reproduksi virus bisa turun menjadi di bawah 1,00.
Anies meminta masyarakat mengurangi mobilitas untuk menekan angka penularan, sebab dibutuhkan setidaknya 60 persen penduduk untuk di rumah saja agar pandemi terkendali.
“Saat ini, masih sekitar 50 persen penduduk yang diam di rumah saja,” lanjut Anies.
Pemprov DKI juga memprediksi jumlah kasus di Jakarta akan mencapai 2.000 per hari pada pertengahan Oktober seiring dengan bertambahnya kapasitas tes.
Sementara kasus aktif diprediksi akan mencapai 20 ribu pada awal November.
Jakarta saat ini mampu melakukan tes hingga enam kali lipat dari standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).