Nicky Aulia Widadio
21 Agustus 2019•Update: 23 Agustus 2019
JAKARTA
Kerusuhan terjadi di Fakfak, Papua Barat pada Rabu pagi hingga siang waktu setempat.
Kapolres Fakfak AKBP Deddy Foury Millewa menuturkan ada bentrok antara dua kelompok di Fakfak, salah satu pemicunya adalah pengibaran bendera bintang kejora yang menjadi simbol kemerdekaan Papua.
Deddy mengatakan sekelompok massa yang diduga dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) mulanya menggelar aksi dan menyampaikan aspirasi kepada Bupati Fakfak.
Namun massa kemudian berupaya merusak bandara, SPBU, serta sejumlah objek vital lainnya.
“Ketika bandara sudah aman mereka kemudian lari ke pasar, lalu pasar dibakar,” kata Deddy, ketika dihubungi, Rabu.
Masyarakat yang berada di pasar kemudian tidak terima dengan pembakaran tersebut sehingga sempat ada ketegangan dengan masyarakat.
Setelah itu massa berkumpul di kantor dewan adat dan mengibarkan bendera bintang kejora.
Massa, menurut Deddy, juga sempat memaksa Bupati Fakfak untuk menyentuh bendera tersebut.
Saat itu muncul kelompok lain yang menamai diri mereka “Barisan Merah Putih” dan meminta bendera bintang kejora diturunkan.
Permintaan itu ditolak dan bentrok terjadi berujung pembakaran kantor Dewan Adat Fakfak oleh massa yang tidak terima dengan pemasangan bendera bintang kejora itu.
Deddy mengatakan situasi di Fakfak mereda mulai pukul 14.00 WIT. Namun sekolah, perkantoran, toko, dan kegiatan masyarakat lainnya di Fakfak terhenti.
Polisi kini mendirikan lima pos pantau untuk mencegah gesekan serupa. Sebanyak dua kompi pasukan TNI-Polri dari luar Papua telah bersiaga di Fakfak.
Sebelumnya, anggota Dewan Adat Papua (DAP) Mbahamata Kabupaten Fakfak, Freddy Warpupur juga mengakui ada pengibaran bendera bintang kejora di kantor Dewan Adat.
Namun massa yang menggelar aksi menurut dia terdiri dari masyarakat dan mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi mereka terkait peristiwa rasisme dan diskriminasi yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur.