Hayati Nupus
11 Mei 2018•Update: 12 Mei 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyebutkan empat teroris yang ditangkap di Tambun, Bekasi, merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan mereka berangkat dari Bandung menuju Jakarta. Rencananya mereka akan ke rumah tahanan cabang Salemba di Mako Brimob, Depok, untuk membantu tahanan terorisme melawan petugas di Mako Brimob.
“Mereka akan bergerak ke Jakarta, khususnya ke Mako Brimob,” ungkap Setyo dalam konferensi pers, Jumat, di Jakarta.
Setyo mengatakan peristiwa itu bermula saat Kamis pukul 01.35 WIB, Polri memperoleh informasi intelijen soal adaya sekelompok orang di Mekarsari, Tambun, Bekasi, yang akan menuju Mako Brimob.
“Polisi menindaklanjuti informasi intelijen itu, lalu menangkap empat orang. Pukul 05.30 WIB kami membawa keempat orang itu ke Jakarta,” kata Setyo.
Keempatnya, ungkap Setyo, adalah RA, JG, HA dan AM. Mereka adalah warga Tasikmalaya, Jawa Barat.
Dalam perjalanan ke Jakarta, ujar Setyo, terduga teroris berupaya melawan. Mereka mencekik personel Polri hingga borgol mereka terlepas.
“Kedua tersangka juga berusaha merebut senjata api milik polisi, lalu anggota yang mengawal melepaskan tembakan,” ujar Setyo.
RA dan JG, kata Setyo, terluka. Keduanya sempat dirawat di Rumah Sakit Polri, namun dua jam kemudian RA tewas. Sedang JG masih memperoleh perawatan.
Saat ini, ungkap Setyo, pihaknya telah mengamankan barang bukti. Yakni berupa 1 buah sangkur (bayonet), 1 buah belati, 25 butir amunisi berkaliber 9 mm, 25 buah paku tembak, 2 buah ketapel, 3 buah busur besi, 69 butir peluru kotri, 2 buah golok dan 48 butir peluru senapan angin.
Polisi, ujar Setyo, membawa tersangka lainnya untuk penyelidikan lebih lanjut.
JAD sendiri diketahui sebagai jaringan teror yang paling kuat mendukung Daesh dari Indonesia. Bahrun Naim, Aman Abdurrahman yang kini sedang diproses pengadilan, dan Abu Jandal yang telah tewas dalam sebuah serangan kerap dikait-kaitkan berhubungan dengan kelompok ini.
Simpatisan JAD juga diketahui melakoni beberapa aksi teror di beberapa kota, di antaranya adalah bom Thamrin, bom Kampung Melayu, bom panci di Bandung, dan pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda.