Muhammad Abdullah Azzam
01 April 2021•Update: 05 April 2021
Islamuddin Sajid, Aamir Latif
ISLAMABAD
Pakistan pada Rabu menyetujui impor kapas, benang, dan gula dari India, negara itu melanjutkan perdagangan dengan New Delhi setelah hampir dua tahun terhenti.
Menteri Keuangan Pakistan Hammad Azhar mengatakan pada sebuah konferensi pers di ibu kota Islamabad setelah pertemuan badan pembuat keputusan utama negara itu Dewan Koordinasi Ekonomi bahwa mereka mengizinkan impor beberapa produk dari India.
"Harga gula di India sekitar 15 persen hingga 20 persen lebih murah dari Pakistan dan oleh karena itu kami mengizinkan impor hingga 30 Juni 2021," ujar Azhar.
Sektor swasta diizinkan impor 500.000 metrik ton gula dari India, tambah dia.
Namun, dia menjelaskan bahwa izin untuk barang tersebut hanya berlaku hingga Juni ini.
Langkah itu dilakukan setelah pertukaran surat baru-baru ini antara Perdana Menteri Imran Khan dan sejawatnya dari India, Narendra Modi.
Dalam pesan ucapan selamat pada 23 Maret, Hari Republik Rakyat Pakistan, Modi mengatakan negaranya menginginkan "hubungan yang baik dengan rakyat Pakistan."
Menanggapi pesan dari Modi, Khan pada Selasa mengatakan rakyatnya juga menginginkan "hubungan yang damai dan kooperatif dengan semua tetangga, termasuk India."
Menyambut keputusan tersebut, Mohammad Jawed Bilwani, ketua Asosiasi Garmen Pakistan, mengatakan impor kapas dan benang yang sangat dibutuhkan dari India akan membantu meningkatkan industri tekstil penting negara itu.
"Produksi kapas Pakistan secara bertahap berkurang 50 persen dalam beberapa tahun terakhir, yang berdampak buruk pada industri tekstil, dan 40 sub-industri terkait," kata Bilwani kepada Anadolu Agency.
Saat ini, Pakistan setiap tahun memproduksi sedikit di atas 7 juta bal kapas dibandingkan dengan 15 juta bal sekitar satu dekade lalu.
Dalam situasi seperti itu, menurut dia, India adalah pilihan terbaik untuk mengimpor komoditas yang lebih murah dan dekat dibandingkan negara lain.
Tekstil dan industri terkait, termasuk garmen, merupakan sekitar 70 persen dari ekspor negara Asia Selatan.
- Penangguhan perdagangan atas Kashmir pada 2019
Pada 2019, Pakistan menangguhkan semua ekspor dan hubungan perdagangan serta menurunkan hubungan diplomatiknya dengan India setelah tindakan New Delhi untuk menghapus status khusus Kashmir yang dikuasai oleh India.
Sebelumnya, larangan ini hanya terbatas pada Israel, di mana Pakistan tidak memiliki hubungan diplomatik atau hubungan dagang dengan Tel Aviv.
Kedua negara tetangga itu bulan lalu setuju untuk menghormati perjanjian gencatan senjata 2003 di sepanjang Garis Kontrol (LoC) - perbatasan de facto yang membagi wilayah Himalaya antara kedua negara.
- Wilayah sengketa
Kashmir dipegang sebagian oleh India dan Pakistan dan diklaim oleh keduanya secara penuh. Sepotong kecil wilayah Kashmir juga dipegang China.
Sejak mereka dipecah pada 1947, kedua negara telah berperang selama tiga kali - pada 1948, 1965, dan 1971 - dua di antaranya untuk memperebutkan Kashmir.
Beberapa kelompok Kashmir di Jammu dan Kashmir telah berperang melawan pemerintahan India untuk kemerdekaan, atau bersatu dengan negara tetangga Pakistan.
Menurut beberapa kelompok hak asasi manusia, ribuan orang telah tewas dalam konflik di wilayah tersebut sejak tahun 1989.