Muhammad Nazarudin Latief
05 Mei 2020•Update: 06 Mei 2020
JAKARTA
Presiden Filipina Rodrigo Duterte memerintahkan departemen kehakiman mengkaji pencegahan bagi tenaga kesehatan untuk bermigrasi ke negara lain.
Menurut Presiden Duterte para pekerja bisa mendapatkan dokumen perjalanan yang diperlukan dalam sekejap dari negara-negara yang terkena pandemi virus korona dan sangat membutuhkan tenaga kesehatan, hal ini membuat Filipina pada posisi yang kurang menguntungkan.
Dia mengatakan para pekerja migran akhirnya berada di tempat-tempat yang berisiko tertular virus korona, yang katanya "telah mengubah cara hidup untuk semua orang di planet ini."
"Mungkin dua hari dari sekarang, kita harus bertemu lagi dan berkonsultasi dengan hukum, Menteri (kehakiman) (Menardo) Guevarra apakah akan legal atau tidak bagi kita untuk menghentikan migrasi tenaga kesehatan hanya karena mereka dibawa ke tempat di mana ada begitu banyak (risiko), "kata Duterte di sebuah pidato televisi Senin malam, seperti dikutip Philstar.
"Tolong jangan salah paham padaku. Aku sudah menjelaskan sekarang. Aku tidak ingin kamu pergi ke sana dan kembali ke peti mati, "tambah dia.
Bulan lalu, Administrasi Ketenagakerjaan Luar Negeri Filipina menunda pengiriman pekerja perawatan kesehatan ke luar negeri sampai keadaan darurat nasional dicabut dan hingga pembatasan perjalanan terkait pandemi dicabut di negara tujuan.
Larangan itu berusaha untuk memastikan bahwa Filipina memiliki sumber daya manusia yang cukup dalam melawan penyakit Covid-19.
Hal itu memancing kritik dari kelompok-kelompok buruh, yang berpendapat bahwa kebijakan itu mempromosikan bekerja dalam paksaan dan melanggar hak bepergian.
Kritik itu mendorong pemerintah mencabut sebagian kebijakan tersebut.
Duterte kemudian meminta para pekerja untuk lebih memiliki jiwa nasionalisme, dan meyakinkan mereka untuk tinggal saat Filipina menghadapi krisis kesehatan.
Duterte mengatakan risiko yang akan dihadapi petugas kesehatan adalah alasan yang lebih valid untuk menghentikan mereka pergi dibandingkan dengan negara yang kehilangan tenaga kerja.
"Itu alasan yang lebih sah untuk menghentikan dokter atau perawat daripada yang sebelumnya yang mengatakan bahwa kita akan kehilangan pekerja," kata presiden.
"Tapi yang ini, jika aku mengirimmu ke medan perang, musuh adalah Covid. Jadi itu benar-benar sangat mematikan. Betapa berbahayanya bagi petugas kesehatan kita, "tambah dia.
Sebanyak 34 petugas kesehatan Filipina telah meninggal saat merawat pasien dengan infeksi virus korona, sementara lebih dari 1.700 lainnya telah tertular virus ini, menurut departemen kesehatan.
Pemerintah telah berkomitmen untuk memperoleh peralatan pelindung pribadi tambahan untuk memastikan keamanan garis depan medis.