Muhammad Abdullah Azzam
26 Maret 2021•Update: 26 Maret 2021
Dilan Pamuk, Emin Avundukluoglu
ANKARA
Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar pada Kamis menelepon sejawatnya dari Rusia untuk membahas peristiwa baru-baru ini di Idlib, provinsi barat laut Suriah.
Menhan Turki Akar dan Menhan Rusia Sergey Shoygu membahas pelanggaran baru-baru ini terhadap perjanjian de-eskalasi di Idlib yang dinegosiasikan antara Ankara dan Moskow pada tahun-tahun sebelumnya.
Selama panggilan telepon itu, para menteri pertahanan memutuskan untuk mengambil tindakan bersama atas masalah tersebut.
Akar juga mencatat bahwa lebih dari 200 teroris telah dinetralkan di Irak utara dan Suriah sejak awal Maret.
Otoritas Turki kerap menggunakan istilah "menetralkan" untuk menyiratkan bahwa teroris tersebut menyerah atau dibunuh atau ditangkap.
Berbicara kepada wartawan di parlemen Turki, Akar mengatakan bahwa percakapan via telepon dengan Shoygu "sangat konstruktif".
“Tujuan kami agar gencatan senjata di kawasan itu menjadi permanen dan perdamaian datang secepatnya,” ujar dia.
Akar menggarisbawahi bahwa Turki menginginkan kawasan itu mencapai stabilitas "secepat mungkin."
"Dalam masalah ini, kedua negara akan melakukan apa yang diperlukan," imbuh dia.
Idlib adalah wilayah gencatan senjata yang sering dilanggar oleh rezim Assad dan sekutunya.
Pada 17 September 2018, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan sejawatnya dari Rusia Vladimir Putin sepakat untuk mendirikan zona demiliterisasi di Idlib.
Ankara dan Moskow juga menandatangani nota kesepahaman tambahan tahun lalu yang menyerukan "stabilisasi" zona de-eskalasi Idlib, di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.