Muhammad Abdullah Azzam
22 Desember 2020•Update: 23 Desember 2020
Gokhan Ergocun, Gozde Bayar
ANKARA
Turki berada di peringkat ke-20 dalam Indeks Keamanan Siber Global atas upaya dari negara itu untuk memperkuat kedaulatannya di dunia siber, kata wakil presiden negara itu pada Senin.
"Sebagai hasil dari upaya kami untuk memperkuat kedaulatan kami di 'dunia siber', kami telah melompat 23 peringkat dalam Indeks Keamanan Siber Global dan naik ke peringkat ke-20 di dunia,” kata Wapres Fuat Oktay pada acara Pekan Keamanan Siber di Ankara.
Acara yang dimulai pada Senin itu akan menghadirkan lebih dari 100 pembicara, termasuk pejabat tinggi dan pakar, guna membahas berbagai topik.
Meski acara tersebut hanya menyetujui partisipasi terbatas, acara ini disiarkan secara langsung via online.
Wapres Turki berjanji untuk semakin memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam keamanan siber dan menjadi salah satu dari 10 negara teratas di dunia.
Oktay berterima kasih kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan yang telah memelopori pembangunan dan penguatan infrastruktur keamanan siber di Turki di hadapan banyak negara.
“Turki adalah salah satu negara yang telah membuat kemajuan signifikan dalam aspek teknis, hukum, dan organisasi keamanan siber,” sebut dia.
Menggarisbawahi pentingnya keamanan di domain siber, Oktay mengatakan Turki perlu melindungi data dan informasi karena itu adalah bagian dari perlindungan perbatasannya.
"Kami berfokus pada langkah-langkah teknologi tingkat tinggi untuk meningkatkan pembangunan kapasitas dan memusnahkan serangan dunia maya dengan cara tercepat," tambah dia.
“Kita harus memimpin perkembangan dunia maya dengan infrastruktur domestik dan nasional kita dengan mengikuti perkembangan dunia maya dengan cermat,” tutur dia.
- Keamanan data digital
Keamanan data digital sama pentingnya dengan keamanan perbatasan negara, kata Ali Taha Koc, Kepala Kantor Transformasi Digital.
Selama pandemi, peningkatan penggunaan aplikasi konferensi video juga menimbulkan risiko peretasan data, kata dia.
Turki telah mengembangkan aplikasi lokal setelah 500.000 akun pengguna diretas melalui aplikasi terkenal, lanjut dia.
“Kami sekarang fokus pada aplikasi asli, dan melalui aplikasi ini kami mengatur pertemuan dan acara kami,” katanya.
- Senjata tidak memiliki keamanan
Ismail Demir, kepala Presidensi Industri Pertahanan Turki, mengatakan misi utama Kelompok Keamanan Siber Turki adalah menciptakan lingkungan untuk memenuhi persyaratan keamanan siber negara dengan produk asli.
Senjata tidak cukup untuk memberikan perlindungan bagi suatu negara, tetapi pendekatan holistik yang mencakup sejumlah bidang seperti kelistrikan, telekomunikasi, teknologi informasi, pertanian dan kedokteran sangat penting, tegas dia.
Wakil Menteri Transportasi dan Infrastruktur Omer Fatih Sayan mengatakan, perlindungan infrastruktur teknologi informasi merupakan kewajiban untuk keamanan nasional.
Tenaga manusia yang berkualitas dan terampil adalah salah satu tantangan terpenting di bidang keamanan siber. Turki menyelenggarakan kompetisi untuk mencari dan mempekerjakan orang-orang muda berbakat, pungkas dia.