Ayse Humeyra Atilgan
23 September 2017•Update: 23 September 2017
Ayse Humeyra Atilgan
ISTANBUL
Konferensi tentang salafisme berlangsung selama tiga hari di Istanbul sejak Jumat kemarin. Dalam konferensi ini, akademisi terkemuka dan para ahli hadir memperdebatkan untung-rugi gerakan konservatif di dunia modern.
Presiden Pendiri sekaligus Profesor Sosiologi di Universitas Ibn Khaldun Recep Senturk dalam konferensi tersebut mengatakan salafisme yang muncul di zaman modern “adalah strategi yang dikembangkan untuk menghancurkan Islam”.
“Mereka yang ingin menghapus peradaban Islam telah menciptakan salafisme hari ini,” kata Senturk.
Konferensi diselenggarakan oleh Yayasan Riset dan Pendidikan Istanbul (ISAR) - sebuah pusat penelitian yang didirikan untuk melatih ilmuwan muslim yang mengkhususkan diri dalam ilmu keislaman dan disiplin ilmu lainnya.
Profesor mengatakan bahwa saat ini salafisme “mendegradasi Islam menjadi sebuah buku saja (Al Quran)”.
Keyakinan bahwa “Quran sudah cukup untuk segalanya” berarti mengabaikan semua kekayaan dan akumulasi peradaban Islam, ujarnya.
“Peradaban adalah sistem sosial dan tatanan moral,” kata Senturk.
“Islam adalah sebuah peradaban yang didasarkan pada Quran dan Hadis [ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad] - bukan hanya tulisan saja.”
Para ahli mendiskusikan bagaimana salafisme dan “Tekstual Islamisme” mencoba memahami Islam hanya dari teks Al Quran dan Hadis; juga menganalisis bagaimana salafisme mengabaikan berbagai aliran pemikiran dan fikih sebagai cara yang sah untuk memahami dan menafsirkan sumber-sumber Islam dan mempraktikkan satu kepercayaan dengan benar.
Senturk mengatakan salafisme modern “menyerukan untuk menghapus peradaban Islam”.
“Mereka bermaksud ‘Mari beralih ke tulisan [Al Quran] dan menghancurkan lainnya –institusi Islam, filsafat, hukum Islam, seni dan arsitektur.”
Senturk juga mengajak umat Islam untuk menggabungkan agama, sains dan pengetahuan guna mencari solusi atas masalah hari ini.