Gülsüm İncekaya
02 Juli 2021•Update: 02 Juli 2021
ISTANBUL
Pasukan penjaga perdamaian negara-negara Muslim harus dibentuk oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengakhiri pertumpahan darah di Afghanistan, kata pemimpin redaksi divisi bahasa dunia Anadolu Agency Mehmet Ozturk.
Berbicara pada diskusi panel secara virtual soal Dinamika Konflik di Afghanistan dan Peran Turki, Ozturk mengatakan Turki, yang mengenal kawasan itu dengan baik, dapat memainkan peran utama dalam misi penjaga perdamaian di sana.
Kegagalan untuk membentuk kekuatan militer seperti itu dapat menyebabkan perang saudara yang kacau di Afghanistan di mana semua pihak akan memerangi semua, urai dia.
Menyoroti hubungan Turki dengan kawasan itu kuat dan historis, Ozturk mengatakan tentara Afghanistan modern sudah didirikan oleh Kekaisaran Ottoman.
Turki tidak mengirim pasukan tempur selama intervensi NATO di Afghanistan pada 2002, ungkap dia, seraya menambahkan bahwa negaranya hanya ambil bagian dalam rekonstruksi Afghanistan.
"Selama periode ini, Taliban tidak menyerang tentara Turki," lanjut dia.
Ozturk mengatakan penolakan Taliban untuk menghadiri pembicaraan damai di Turki menyebabkan kerugian besar bagi Afghanistan juga. Konferensi perdamaian Afghanistan yang sangat dinanti-nantikan di Istanbul dijadwalkan pada akhir April, tetapi malah ditunda.
"Beberapa kelompok dan negara bagian tidak ingin Taliban datang ke Istanbul," sebut dia.
Situasi di Afghanistan menjadi semakin penting dalam beberapa pekan terakhir setelah Presiden AS Joe Biden mengumumkan bahwa semua pasukan Amerika akan mundur dari negara yang dilanda perang itu pada 11 September, dan sekutu NATO mengikuti langkah AS itu.
Ankara telah menjalankan operasi militer dan logistik di bandara Kabul selama enam tahun sebagai bagian dari Misi Dukungan Tegas yang dipimpin NATO. Mereka juga menawarkan untuk menjaga bandara setelah penarikan pasukan asing.
Ozturk mengatakan Turki seharusnya tidak tinggal di Afghanistan sebagai bagian dari NATO, sambil mengatakan bahwa itu bisa merepotkan Turki.
Turki harus tetap berada di Afghanistan dengan mendapatkan kepercayaan Taliban, ujar dia, seraya menambahkan bahwa Taliban juga tidak menginginkan konflik dengan Turki.
Emrah Ozdemir, seorang dosen di departemen Hubungan Internasional Universitas Cankiri Karatekin, mengatakan peran Turki di Afghanistan tidak boleh dipersempit pada keamanan bandara saja.
Ozdemir mengatakan Turki dapat berkontribusi untuk menghentikan perang dengan menggunakan soft power-nya.
“Sangat sulit untuk memprediksi apakah pemerintah pusat, atau Taliban akan berhasil. Jatuhnya Kabul akan menutup pintu Afghanistan ke Barat. Karena itu, bandara Kabul harus dipertahankan," pungkas dia.