Muhammad Abdullah Azzam
03 Juli 2018•Update: 04 Juli 2018
Dildar Baykan
ANKARA
Sebanyak 70 persen anak-anak Rohingnya usia sekolah yang berada di kamp pengungsian di Bangladesh tak mendapatkan akses pendidikan, menurut pernyataan dari organisasi “Save the Children”, LSM berbasis London yang melakukan kegiatan internasional berkaitan hak-hak anak.
Direktur ‘Save the Children’ Bangladesh, Mark Pierce, menyatakan terdapat 327 anak Rohingnya di Cox’s Bazar yang tak bersekolah. Menurut Pierce, hak anak-anak tersebut untuk memiliki masa depan yang lebih baik telah dirampas.
Pierce menyatakan, anak-anak yang dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan non-formal di kamp-kamp pengungsi, menerima pendidikan yang lebih rendah dibandingkan anak-anak seumur mereka pada umumnya.
Pierce menilai, pendidikan bukanlah sesuatu kemewahan yang harus diminta, melainkan suatu ikhtiar yang bisa menyelamatkan jiwa. Pendidikan juga merupakan harapan untuk membantu menghilangkan dampak psikososial akibat kekerasan dan relokasi, serta membantu anak-anak kembali ke rutinitas sehari-hari mereka.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres dan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim serta delegasi mereka mengunjungi kamp pengungsi Rohingnya kemarin.
Kepada para delegasi, Pierce meminta agar kualitas pendidikan di kamp-kamp pengungsi tersebut ditingkatkan. Pierce juga meminta kepada pemerintah Bangladesh agar anak-anak Muslim Rohingya dapat memiliki akses pendidikan yang aman, berkualitas dan menyeluruh selama mereka berada di sana.
Pierce kembali mengimbau kepada semua pihak agar mencarikan solusi jangka panjang bagi para Muslim Rohingya supaya mereka dapat kembali ke rumah-rumah mereka dengan selamat, bermartabat dan dengan suka rela.