Maria Elisa Hospita
13 Desember 2018•Update: 14 Desember 2018
Kasim Ileri
WASHINGTON
Amerika Serikat (AS) menyuarakan kekhawatirannya akan rencana operasi militer Turki di timur laut Suriah untuk mengusir kelompok teror YPG / PKK.
Pada Rabu, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa dalam beberapa hari mendatang, Turki akan segera melancarkan operasi di dekat Sungai Eufrat.
Turki sejak lama mengkritik kerja sama AS dengan YPG / PKK untuk melawan teroris Daesh, karena Turki menganggap YPG sebagai organisasi cabang PKK di Suriah.
"Aksi militer sepihak ke timur laut Suriah oleh pihak manapun - khususnya di mana personel militer AS berada - akan menjadi perhatian kami. Kami tak bisa menerima aksi itu," ujar juru bicara Pentagon Sean Robertson.
Dia mengatakan koordinasi dan konsultasi antara AS dan Turki adalah satu-satunya pendekatan yang dapat mengatasi masalah keamanan di area itu.
Menurut Robertson, militer AS telah berkomitmen untuk bekerja sama dengan militer Turki untuk meningkatkan kerja sama dan koordinasi, sehingga "operasi militer yang tak terkoordinasi" akan merusak kepentingan bersama itu.
Bagi AS, Turki adalah "sekutu NATO" selama lebih dari enam dekade dan "mitra kunci" dalam perang internasional melawan Daesh.
"Kami memiliki kewajiban untuk menjaga keamanan satu sama lain. Kami sepenuhnya berkomitmen untuk keamanan perbatasan Turki," tambah jubir Pentagon itu.
Robertson mengatakan koalisi pimpinan AS bekerja sama dengan kelompok SDF yang dipimpin YPG / PKK di tengah-tengah operasi serangan terhadap Daesh di Lembah Sungai Eufrat.
"SDF masih menjadi mitra kami dalam memerangi ISIS dan kami tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan mereka demi memastikan kekalahan abadi Daesh," kata dia lagi.
Misi di timur Eufrat diluncurkan menyusul keberhasilan dua operasi lintas perbatasan Turki ke Suriah - Operasi Perisai Eufrat dan Operasi Ranting Zaitun - yang bertujuan memberangus keberadaan YPG/PKK dan Daesh di sepanjang perbatasan Turki.
Selama lebih dari 30 tahun, PKK melancarkan kampanye teror melawan Turki, dan menyebabkan tewasnya sekitar 40.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.