Jeyhun Aliyev
ANKARA
Melewati satu bulan bentrokan Armenia-Azerbaijan, cakrawala baru muncul di wilayah Karabakh Atas ketika tentara Azerbaijan dalam 30 hari terakhir membebaskan banyak desa, permukiman, dan kota dari hampir tiga dekade pendudukan Armenia.
Meningkatnya bentrokan perbatasan di sepanjang perbatasan Armenia-Azerbaijan pada 27 September adalah yang terbaru dari konflik berkepanjangan antara kedua negara bekas Soviet, yang memiliki hubungan tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh Atas, atau Nagorno-Karabakh, sebuah wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional, dan tujuh wilayah yang berdekatan.
Meskipun gencatan senjata tercapai pada 1994, api sebenarnya tidak pernah berhenti.
Sejak itu, negosiasi perdamaian terhenti dan bentrokan sering meletus di sekitar Karabakh Atas - jantung dari perselisihan selama puluhan tahun di sepanjang perbatasan Armenia-Azerbaijan.
Pada Juni 2010, Agustus 2014, November 2014, Desember 2015, dan periode lainnya, setiap kali pembicaraan tingkat tinggi di Karabakh Atas dipermasalahkan, pelanggaran gencatan senjata menyebabkan kerugian yang signifikan dari kedua belah pihak.
'Perang empat hari'
Setelah gencatan senjata tahun 1994, bentrokan paling luas terjadi pada bulan April 2016, yang juga dikenal sebagai "perang empat hari".
Azerbaijan, yang menanggapi provokasi Armenia selama konflik tersebut, menyelamatkan sebagian wilayahnya dari pendudukan Armenia dengan menimbulkan kerugian besar di pihak lain, dan mengambil keuntungan psikologis atas Armenia, yang sangat mengganggu Yerevan dan para pendukungnya.
Azerbaijan kali ini lebih kuat secara militer, ekonomi, dan diplomatik daripada pada awal 1990-an.
Pada 6 April 2016, sehari setelah Azerbaijan dan Armenia menghentikan operasi militer di sepanjang garis depan antar negara, Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengumumkan bahwa tentara Armenia telah melanggar gencatan senjata baru sebanyak 115 kali, menambahkan bahwa Baku telah mematuhi gencatan senjata.
Kementerian itu juga mengatakan pertempuran itu menewaskan 271 personel militer - 31 dari Azerbaijan dan 240 lainnya dari Armenia.
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev kemudian menuduh Armenia melakukan "provokasi lain" di daerah pertempuran dan menyerang posisi Azerbaijan yang lain.
Provokasi Armenia
Pada 23 Agustus, "kelompok pengintai sabotase" dari tentara Armenia pada dini hari berusaha melakukan provokasi ke arah distrik Goranboy Azerbaijan di dekat garis depan.
Namun, karena mengalami kerugian, mereka terpaksa mundur karena tentara Azerbaijan ditempatkan di daerah ini, ungkap Kementerian Pertahanan Azerbaijan.
Selama pertempuran, komandan kelompok sabotase Armenia, Letnan Gurgin Alberyan, ditawan.
Sementara itu kementerian mengklaim bahwa "semua tanggung jawab atas memburuknya situasi di garis depan terletak langsung pada kepemimpinan militer-politik Armenia."
Pada 12 Juli, pasukan Armenia melanggar gencatan senjata yang sedang berlangsung dan menargetkan posisi tentara Azerbaijan di distrik Tovuz barat laut yang mengakibatkan korban.
Mereka kemudian mundur setelah menderita kerugian menyusul pembalasan dari militer Azerbaijan.
Sebanyak 12 tentara Azerbaijan, termasuk seorang mayor jenderal dan seorang kolonel tewas, sementara empat lainnya terluka dalam bentrokan perbatasan. Seorang warga Azerbaijan berusia 76 tahun juga tewas dalam serangan Armenia di distrik perbatasan.
Dalam serangan balasan, pejabat Azerbaijan mengatakan hampir 100 tentara Armenia tewas, menurut Karim Valiyev, wakil menteri pertahanan Azerbaijan.
Azerbaijan sebelumnya mengatakan bahwa Armenia menyembunyikan korbannya.
Azerbaijan mengecam tindakan "provokatif" Armenia, dan Ankara mendukung Baku dan memperingatkan Yerevan bahwa mereka tidak akan ragu untuk melawan setiap serangan terhadap tetangganya di timur.
Perang Patriotik
Bentrokan di perbatasan baru-baru ini meletus pada 27 September setelah pasukan Armenia menargetkan pemukiman sipil dan posisi militer Azerbaijan dan menyebabkan korban jiwa.
Hikmat Hajiyev, asisten presiden dan kepala kebijakan luar negeri Kepresidenan Azerbaijan, mengatakan bahwa dengan menggunakan senjata kaliber besar, peluncur mortir, dan artileri, tentara Armenia melancarkan serangan intensif terhadap posisi tentara Azerbaijan di sepanjang garis depan, saat serta desa Gapanli di distrik Tartar, Chiragli dan Orta Garavand di distrik Aghdam, Alkhanli dan Shukurbayli di Fuzuli, dan Jojug Marjanli di Jabrayil.
"Kami secara resmi mengumumkan bahwa Tentara Azerbaijan tidak menargetkan penduduk sipil, fasilitas sipil, atau infrastruktur sipil. Berbeda dengan negara pendudukan Armenia, selama operasi militer, Azerbaijan mematuhi persyaratan regulasi hukum kemanusiaan internasional, termasuk Konvensi Jenewa," kata Kementerian Pertahanan Azerbaijan.
Parlemen Azerbaijan menyatakan keadaan perang di beberapa kota dan wilayahnya menyusul pelanggaran perbatasan Armenia dan serangan di wilayah Nagorno-Karabakh yang diduduki.
Pada 28 September, Azerbaijan mengumumkan mobilisasi militer parsial di tengah bentrokan.
Baku berkali-kali mengatakan pihaknya bertekad untuk melanjutkan "perang patriotik" sampai pasukan Armenia menarik diri dari wilayah pendudukan Azerbaijan, menambahkan bahwa pihaknya siap untuk segera menghentikan pertempuran jika Armenia memberikan jadwal penarikan pasukannya dari tanah yang diduduki.
Gencatan senjata yang ditengahi Moskow
Pada 10 Oktober, gencatan senjata kemanusiaan baru yang disepakati antara Azerbaijan dan Armenia untuk pertukaran tahanan dan pengambilan mayat dari zona konflik mulai berlaku pada siang hari waktu setempat.
Gencatan senjata terjadi setelah pertemuan trilateral selama 11 jam di Moskow antara menteri luar negeri Rusia, Azerbaijan, dan Armenia.
Armenia sering melanggar perjanjian gencatan senjata dengan mencoba melancarkan serangan, Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan beberapa jam setelah gencatan senjata kemanusiaan diberlakukan.
"Meskipun ada kesepakatan untuk mengumumkan gencatan senjata pada pukul 12 malam [waktu setempat], tentara Armenia berusaha menyerang ke wilayah Aghdere-Tartar dan Fuzuli-Jabrayil," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
"Pada saat yang sama, sejumlah permukiman kami dihantam artileri Armenia," tambah dia.
Pada malam 11 Oktober, serangan rudal oleh pasukan Armenia sekitar pukul 2 pagi waktu setempat pada 10 Oktober di Ganja, yang terletak di luar zona garis depan, dalam waktu 24 jam setelah gencatan senjata melanggar gencatan senjata tentatif antara kedua belah pihak.
Serangan itu menyebabkan sedikitnya 10 orang tewas dan 35 lainnya luka-luka, termasuk wanita dan anak-anak.
Pasukan Armenia juga menargetkan warga sipil yang mengunjungi pemakaman pada 15 Oktober di kota barat Tartar, menewaskan empat orang dan juga melukai empat lainnya.
Pada awal 17 Oktober, setidaknya 13 warga sipil tewas, termasuk empat wanita dan tiga anak di bawah umur, dan hampir 50 lainnya terluka, ketika rudal Armenia sekali lagi menghantam Ganja, sebuah kota dengan populasi setengah juta.
Menurut Badan Nasional untuk Pekerjaan Ranjau (ANAMA) Azerbaijan, rudal yang ditembakkan ke Ganja diidentifikasi sebagai Rudal Balistik Operatif-Taktis SCUD/Elbrus.
Rudal Elbrus adalah senjata yang sangat merusak dengan jangkauan 300 kilometer yang dapat membawa hingga 700 kilogram bahan peledak.
Itu adalah serangan mematikan kedua Armenia dalam waktu kurang dari seminggu di Ganja.
Pembangkit listrik tenaga air di Mingachevir juga menjadi sasaran tentara Armenia, tetapi misil berhasil dilumpuhkan oleh pertahanan udara Azerbaijan.
Azerbaijan menyebut serangan terhadap permukiman sipil sebagai "kejahatan perang", menambahkan bahwa Armenia secara terbuka melanggar Konvensi Jenewa.
Pelanggaran gencatan senjata kemanusiaan
Azerbaijan dan Armenia menyetujui gencatan senjata kemanusiaan sementara yang baru mulai dari tengah malam pada 18 Oktober.
Gencatan senjata sementara yang ditengahi AS antara Azerbaijan dan Armenia diumumkan hari Minggu kemarin dan berlaku pada Senin pukul 8 pagi waktu setempat, namun, itu berumur pendek karena hanya beberapa menit kemudian, pasukan Armenia kembali melanggar gencatan senjata.
"Pada 26 Oktober pukul 08.05, tentara Armenia melanggar gencatan senjata kemanusiaan baru dan menembaki unit Angkatan Darat Azerbaijan yang terletak di desa Safiyan di Lachin dari arah kota Lachin," kata Kementerian Pertahanan Azerbaijan di Twitter.
Kementerian juga mengatakan tentara Azerbaijan sepenuhnya mematuhi gencatan senjata.
Pada Selasa, tentara Armenia menembaki kota Goranboy, Tartar, dan Barda dengan meriam dan rudal, menurut Kementerian Pertahanan Azerbaijan.
Setidaknya empat warga sipil - termasuk seorang balita berusia dua tahun - tewas, sementara 13 lainnya luka-luka - termasuk wanita dan anak-anak - ketika tentara Armenia menargetkan permukiman sipil di Barda, Azerbaijan.
"Menurut ANAMA, Armenia menggunakan rudal cluster Smerch terhadap warga sipil di Barda. Penggunaan senjata cluster terhadap warga sipil dilarang," kata asisten presiden Azerbaijan di Twitter.
Pada Rabu, menurut laporan awal, setidaknya 19 warga sipil tewas dan hampir 60 lainnya terluka dalam serangan rudal lainnya oleh pasukan Armenia di pusat kota Barda sekitar pukul 13.00.
Armenia sekali lagi menggunakan rudal Smerch Rusia yang menyebabkan korban sipil, kata Hajiyev.
Menurut Kantor Kejaksaan Agung Azerbaijan pada Rabu pukul 11.00, sedikitnya 69 warga sipil Azerbaijan telah tewas dan 322 luka-luka, sementara 2.338 rumah dan 92 bangunan tempat tinggal multi-apartemen hancur dan 415 fasilitas sipil rusak.
Pemimpin Azerbaijan sejauh ini mengumumkan bahwa lebih dari 120 desa, empat kota, dan beberapa permukiman serta titik-titik strategis telah dibebaskan dari pendudukan Armenia.
news_share_descriptionsubscription_contact



