Rhany Chairunissa Rufinaldo
02 September 2020•Update: 02 September 2020
Fahri Aksut
ANKARA
Delegasi Turki dan Rusia bertemu di Moskow untuk membahas situasi di Libya dan Suriah pada Selasa.
Wakil Menteri Luar Negeri Sedat Onal mengatakan untuk gencatan senjata yang berkelanjutan dan permanen di Libya, sangat penting untuk mendemiliterisasi kota utara Sirte dan wilayah tengah Jufra, setelah pembicaraan dengan Rusia mengenai konflik di negara Afrika Utara itu.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan delegasi Turki yang dipimpin oleh Onal terbang ke Moskow untuk menghadiri pertemuan selama dua hari.
Menggarisbawahi bahwa proses demiliterisasi untuk wilayah ini harus ditentukan, Onal mengatakan Turki telah menyatakan dukungannya untuk upaya Komisi Militer Gabungan 5 + 5 (JMC) yang dipimpin PBB.
Dia mengatakan dalam pertemuan tersebut, pihak Turki menekankan pentingnya memulai dialog politik intra-Libya di bawah naungan PBB, serta melaksanakan resolusi Konferensi Berlin.
Menurut Onal, Rusia dan Turki memutuskan untuk mempertahankan kontak menuju resolusi politik di Libya.
Pada 21 Agustus, Libya mengumumkan gencatan senjata dan memerintahkan militer untuk menghentikan semua operasi tempur, menyebut bahwa wilayah Sirte dan al-Jufra harus didemiliterisasi dan menyerukan pemilihan umum Maret mendatang.
Pada 27 Agustus, tentara Libya mengatakan milisi yang setia kepada panglima perang Haftar melanggar gencatan senjata.
Menyusul penggulingan almarhum penguasa Muammar Khaddafi pada 2011, pemerintahan baru Libya didirikan pada 2015 di bawah kesepakatan politik yang dipimpin PBB.
Pemerintah Libya yang diakui secara internasional telah diserang oleh pasukan Haftar sejak April 2019, dengan lebih dari 1.000 tewas dalam kekerasan itu.
Dengan dukungan Turki, pemerintah Libya telah membalikkan keadaan melawan pasukan Haftar, sembari menekankan bahwa tidak ada solusi militer untuk Libya.
Suriah
Mengenai Suriah, Onal mengatakan situasi di wilayah barat laut Idlib dan masalah terkait pelaksanaan patroli bersama juga telah dibahas.
Dia mengatakan delegasi Turki dan Rusia sepakat untuk melanjutkan upaya bersama sesuai dengan gencatan senjata Maret di wilayah tersebut, yang telah dinyatakan sebagai zona de-eskalasi.
Onal menambahkan bahwa kedua belah pihak telah membahas hasil pertemuan putaran ketiga Komite Konstitusi Suriah di Jenewa baru-baru ini, menekankan pentingnya menjaga momentum dalam proses politik.
Selain itu, mereka menekankan perlunya Proses Astana terus berlanjut.
Maret ini, Ankara dan Moskow menyetujui protokol yang mendesak pihak-pihak untuk menghentikan semua tindakan militer di sepanjang garis kontak di area de-eskalasi Idlib.
Protokol tersebut mengatakan patroli bersama Turki-Rusia akan dimulai pada 15 Maret di sepanjang jalan raya M4 dari pemukiman Trumba - 2 kilometer di barat Saraqib - ke pemukiman Ain al-Havr.
Idlib telah lama dikepung oleh pasukan rezim Bashar al-Assad dan sekutunya.
Turki telah berupaya untuk melindungi penduduk sipil setempat serta membersihkan wilayah itu dari unsur teroris.