Aamir Latif dan Islamuddin Sajid
KARACHI/ISLAMABAD, Pakistan
Mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dalam kasus korupsi oleh pengadilan Islamabad pada Jumat, yang segera disikapi dengan seruan "ketidakadilan" oleh partai pendukung Sharif.
Pengadilan antikorupsi di ibu kota Islamabad juga menjatuhkan denda sebesar 8 juta pounds (USD10,58 juta) kepada Sharif.
Perdana menteri yang duduk selama tiga masa jabatan ini, bersama putrinya Maryam Nawaz, dan menantunya Mohammad Safdar, dinyatakan bersalah atas pembelian empat apartemen di Avenfield House di area Park Lane, London, pada 1993, yang diduga menggunakan dana ilegal.
Maryam dan suaminya Safdar divonis tujuh tahun dan satu tahun penjara. Keduanya juga didiskualifikasi dari mengikuti pemilihan umum yang akan datang.
Pengadilan juga memerintahkan keempat apartemen London itu disita, dan menjatuhkan denda 2 juta pounds (USD2,65 juta) kepada Maryam, kata jaksa penuntut Sardar Muzzafer Abbasi kepada wartawan di Islamabad.
Juli lalu, Sharif yang berusia 68 tahun dilarang memegang jabatan publik oleh Mahkamah Agung karena skandal Panama Paper, yang menggiring penyelidikan dan dakwaan tiga kasus korupsi, termasuk kasus properti Avenfield terhadap dirinya dan keluarganya. Tak lama sesudah itu, pengadilan tinggi tersebut juga melarangnya memimpin partai politiknya, Pakistan Muslim League (PML-N).
Putusan pengadilan ini dijatuhkan setelah melakukan 107 kali sidang, dalam proses persidangan paling ditonton di seluruh negeri. Pengadilan menambah hukuman satu tahun penjara kepada Maryam Nawaz karena dianggap memberi informasi menyesatkan kepada pengadilan dengan memberikan akta penjualan palsu.
Para terdakwa diberi kesempatan untuk mengajukan banding ke pengadilan tinggi dalam tujuh hari, dan banding lagi sampai ke tingkat Mahkamah Agung.
Saat ini, mantan perdana menteri Nawaz Sharif berada di London bersama istrinya Begum Kalsoom Nawaz yang sedang berobat karena kanker yang dideritanya. Maryam Nawaz juga bersama mereka di London.
Setelah vonis diumumkan, Maryam mencuit, "Bagus, Nawaz Sharif, Anda tidak terintimidasi, Anda tidak menyerah. Rakyat Pakistan bersama Anda."
Partai Sharif tolak vonis
Anak-anak Sharif Nawaz lainnya, Hassan dan Hussain, keduanya juga didakwa dalam kasus Avenfield, dinyatakan sebagai pembelot oleh pengadilan yang sama karena menolak hadir dalam sidang dengar; keduanya berkata undang-undang Pakistan tidak berlaku terhadap mereka karena keduanya warga negara Inggris.
Sebelumnya di hari yang sama, pengadilan menolak permohonan Nawaz Sharif untuk menunda putusan selama seminggu dan menolak permintaannya untuk mendengarkan putusan secara langsung.
Partai PML-N menolak putusan pengadilan ini.
Dalam konferensi pers di London, Nawaz Sharif, secara halus menyindir kekuatan militer negaranya dengan berkata, "Putusan ini tidak berasal dari pengadilan, namun atas suruhan orang lain."
Dia juga berkata akan kembali ke Pakistan bersama Maryam Nawaz jika istrinya sudah merasa lebih sehat.
"Ini adalah putusan pengadilan yang akan ditulis dengan tinta hitam dalam sejarah," uajr Shehbaz Sharif, adik lelaki Nawaz Sharif dan ketua PML-N, dalam konferensi pers di Kota Lahore.
"Putusan ini berdasar ketidakadilan. Tidak ada bukti yang memberatkan Nawaz Sharif. Kami menolaknya.
"Nawaz Sharif selalu menhgadapi ketidakadilan dan kesulitan dengan keberanian dan kepastian. Dan dia akan melakukan yang sama kali ini," kata dia.
Masyarakat Pakistan juga akan menolak putusan ini dalam pemilihan umum mendatang, lanjut dia.
Para anggota PML-N lantas mengadakan demonstrasi di beberapa kota untuk memprotes putusan ini, terutama di Provinsi Punjab.
"Kami tidak menerima putusan yang tidak adil", "Hidup Nawaz Sharif" dan "Kami adalah Nawaz Sharif" tertulis dalam poster-poster yang diusung simpatisan partai pekerja setelah putusan dibacakan.
Pemerintah menambah jumlah polisi di Islamabad, Lahore, dan beberapa kota lain di Provinsi Punjab -- basis PML-N -- untuk mengantisipasi protes melawan putusan ini. Belum ada kasus kekerasan dilaporkan dari wilayah manapun di negara ini.
Gelombang simpati untuk Nawaz?
Beberapa analis politik melihat putusan ini sebagai pukulan besar bagi partai PML-N Sharif, yang sebelumnya sudah mendapatkan persaingan kuat dari partai oposisi, terutama Pakistan Tehrik-e-Insaf (PTI) yang dipimpin oleh mantan pahlawan kriket, Imran Khan.
Beberapa analis lain, meski begitu, menilai Sharif akan mendulang simpati jika dia kembali ke Pakistan sebelum pemilihan umum yang rencananya akan digelar pada 25 Juli.
Pemimpin oposisi Khursheed Shah, dari Partai Rakyat Pakistan (PPP), menilai putusan pengadilan ini dijatuhkan pada saat yang "salah".
"Putusan ini mestinya keluar tiga bulan yang lalu. Tapi vonis malah jatuh tepat sebelum pemilihan umum. Ini akan memberi keuntungan bagi Nawaz Sharif," ujar Shah seperti dikutip dari Geo TV.
Namun, masih banyak kasus yang menanti mantan perdana menteri ini.
Bersama putri dan anggota keluarga lainnya, Nawaz Sharif, yang partainya meraih kemenangan dan kekuasaan dalam pemilihan umum 2013, juga disidang dalam dua kasus korupsi lain, yang, menurut dia, telah "diatur" dan digunakan untuk menyingkirkannya dan partainya dari politik.
Pada April 2016, putra tertua Nawaz Sharif, Hussain Nawaz, mengaku dalam sebuah wawancara dengan kanal lokal Palestina bahwa keluarganya memiliki aset di perusahaan lepas pantai Panama dan apartemen di London.
Sharif berkeras semua transaksi tersebut legal, namun gagal memberikan bukti pembelian di pengadilan tinggi dan pengadilan antikorupsi. Alih-alih, dia menjauhkan diri dari putranya dan mengaku tak punya urusan dengan pembelian apartemen tersebut.
Nawaz Sharif, yang duduk sebagai perdana menteri dari 1990 sampai 1992, 1997 sampai 1999, dan 2013 sampai 2017, gagal menyelesaikan satu pun masa jabatan. Dua pemerintahan pertamanya dibubarkan karena tuduhan korupsi dan melalui kudeta militer berdarah pada 1992 dan 1999.
news_share_descriptionsubscription_contact

