Dandy Koswaraputra
04 Maret 2018•Update: 05 Maret 2018
Erdal Celikel dan Dilara Zengin
ANKARA
Keputusan AS baru-baru ini untuk mengenakan tarif pada impor baja dan aluminium tidak bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama, ungkap Kepala Asosiasi Eksportir Baja Turki pada Jumat.
"AS telah membuat keputusan yang sama sebelumnya, tapi mereka bisa [membuatnya bertahan lama] hanya selama 11 bulan," kata Namik Kemal Ekinci kepada Anadolu Agency.
Pada Kamis, Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa AS akan mengenakan tarif 25 persen pada baja impor dan tarif sepuluh persen pada aluminium impor per pekan depan.
AS menyombongkan kapasitas produksi 82 juta ton baja tiap tahunnya dan ingin meningkatkannya menjadi 90 juta, ungkap Ekinci.
Dia menambahkan: "Target itu tidak bisa cepat tercapai. AS akan terus mengimpor baja dan negara eksportir akan menyesuaikan harganya."
"Trump berusaha menepati janjinya kepada produsen baja AS tapi keputusannya tidak bisa dilakukan untuk jangka waktu yang lama karena akan timbul kekacauan dalam pasar dalam negeri," jelas Ekinci.
Dia menggarisbawahi bahwa keputusan itu mencakup semua negara yang mengekspor baja ke AS.
Jean-Claude Juncker, Presiden Komisi Eropa, menyebut keputusan itu sebagai "intervensi terang-terangan" untuk melindungi industri AS.
"Kami sangat menyesalkan langkah ini, yang tampaknya menunjukkan intervensi terang-terangan untuk melindungi industri dalam negeri AS dan tidak berdasarkan pada justifikasi keamanan nasional," ungkap Juncker pada Kamis.
Dia mengimbuhkan: "Perlindungan tidak bisa menjawab masalah umum yang kami hadapi di sektor baja."
AS merupakan importir baja terbesar dengan 26,9 juta ton baja dalam kurun waktu sembilan bulan pertama pada 2017, meningkat 20 persen secara year-on-year, menurut data dari Administrasi Perdagangan Internasional AS.
AS paling banyak mengimpor dari Kanada (16 persen) diikuti dengan Brazil (13 persen), Korea Selatan (sepuluh persen), Rusia dan Meksiko (sembilan persen). Turki berada di urutan keenam dengan tujuh persen.
Sembilan persen dari ekspor baja Turki -- USD1,2 miliar atau 1,8 juta ton -- dikirimkan ke AS pada 2017.
AD menduduki peringkat kelima dunia dalam produksi baja mentah, yang meningkat sebanyak empat persen ke 81,6 juta ton pada 2017, menurut laporan Asosiasi Baja Dunia.
Cina tadinya produsen terbesar dengan 831,7 juta ton baja mentah pada 2017.