Muhammad Abdullah Azzam
26 Desember 2019•Update: 27 Desember 2019
Sibel Morrow, Özcan Yıldırım
ANKARA
Presiden Turki menuduh beberapa negara Eropa dan Arab mendukung Khalifa Haftar, komandan bermarkas di Libya Timur yang berambisi merebut ibu kota Libya dengan kudeta.
Dalam sebuah pertemuan dengan para ketua pengurus partai tingkat provinsi di markas besar Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di Ankara, Recep Tayyip Erdogan mengungkapkan Turki telah diundang oleh pemerintah Libya yang sah untuk membantunya.
"Turki akan memberikan segala macam dukungan kepada pemerintah Tripoli, yang berperang melawan komandan Haftar yang didukung oleh berbagai negara Eropa dan Arab,” ujar Presiden Erdogan.
Turki akan memberikan dukungan militer atas permintaan pemerintah yang sah di Libya, tutur Erdogan.
Terkait kesepakatan dukungan militer yang ditandatangani Turki dan Pemerintah Nasional Libya (GNA) yang ditandatangani pada 27 November, Erdogan mengatakan mosi untuk dukungan militer ke Libya akan diajukan ke parlemen Turki usai parlemen dibuka pada 8 Januari mendatang.
"Kami telah menandatangani MoU, dan kami akan mengajukan mosi untuk mengirim pasukan ke Libya. Saya harap kami akan menyetujuinya di parlamen pada 8 atau 9 Januari, dan dengan demikian kami akan menyambut undangan [Libya]," ungkap Presiden Turki.
Erdogan menggarisbawahi tujuan pakta maritim dengan Libya bukan untuk merebut hak siapa pun, melainkan untuk mencegah perampasan hak Turki di Laut Mediterania.
Pada 27 November lalu, Ankara dan Pemerintah Kesepakatan Nasional Tripoli (GNA) di Tripoli menandatangani dua perjanjian terpisah, satu tentang kerja sama militer dan lainnya mengenai batasan maritim di Laut Mediterania.
Pakta kelautan itu menegaskan hak Turki di Mediterania Timur dalam menghadapi pengeboran sepihak oleh pemerintah Siprus Yunani, sekaligus menjelaskan Republik Turki Siprus Utara (TRNC) memiliki hak atas sumber daya di daerah tersebut.
Kesepakatan ini mulai berlaku pada 8 Desember.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.