Chandni
15 November 2017•Update: 15 November 2017
LONDON
Perdana Menteri Inggris Theresa May menuduh Rusia ikut campur dalam pemilu dan mengkerdilkan negara-negara Barat.
Dalam pidatonya di Lord Mayor Banquet, May mengatakan "skala dan sifat" perbuatan Rusia itu "mengancam sistem internasional yang tertata rapi".
May mengatakan "perebutan Crimea secara ilegal" yang dilakukan oleh Rusia adalah pertama kalinya sejak Perang Dunia II sebuah negara berdaulat mengambil teritori secara paksa dari negara lain di Eropa. May juga mengatakan Rusia menghasut konflik di Donbas dengan "gerakan mata-mata siber".
"Ini termasuk ikut campur di pemilu dan meretas Kementerian Pertahanan Denmark dan parlemen Bundestag Jerman, antara lain," jelas May baru-baru ini. "Kami tahu apa yang kalian perbuat."
May juga memperingatkan Rusia tidak akan sukses meruntuhkan demokrasi, karena "dunia dipersatukan oleh komunitas-komunitas yang bebas dan terbuka".
"Inggris akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi diri kita dan bekerja sama untuk melindungi negara-negara lain," tambah dia.
Namun May mengatakan Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson akan mengunjungi Rusia dalam waktu dekat, memastikan bahwa Inggris masih ingin berdialog dengan Rusia. May juga mengatakan aliansi NATO sangat penting dan Inggris telah "meningkatkan dukungan ekonomi dan militer untuk Ukraina".
Pidato May itu merupakan yang peringatan yang keras terhadap Rusia, menyusul pidatonya September lalu yang mengecam tindakan Rusia di Eropa Timur.
"Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Rusia memiliki tanggung jawab menciptakan keseimbangan internasional," ujar May.