Rhany Chairunissa Rufinaldo
02 Desember 2019•Update: 03 Desember 2019
Zehra Nur Duz
ANKARA
Jepang pada Senin mengumumkan bahwa pengangkatan puing-puing lelehan bahan bakar nuklir dari pembangkit listrik Fukushima Daiichi akan dimulai pada 2021, 10 tahun setelah fasilitas itu lumpuh oleh tsunami dahsyat.
Lelehan nuklir di tiga reaktor pabrik di wilayah Tohoku disebabkan oleh gempa bumi dan tsunami besar pada 2011, yang kemudian menjadi bencana nuklir terburuk di dunia sejak bencana Chernobyl 1986.
Menurut peta jalan jangka menengah hingga jangka panjang yang diumumkan oleh Menteri Perindustrian Jepang Hiroshi Kajiyama, pekerjaan pengangkatan harus dimulai di reaktor nomor dua karena akan memfasilitasi jalan ke reaktor lain yang terkena dampak, lansir Kyodo News.
Jika berjalan sesuai rencana, pengangkatan 4.741 batang bahan bakar yang tersisa di dalam kolam reaktor nuklir akan selesai pada 2031.
"Karena semakin banyak orang kembali dan membangun kembali di daerah sekitar pabrik Daiichi, kami akan mengambil langkah-langkah berdasarkan prinsip dasar menyeimbangkan pembangunan kembali dan penonaktifan," kata Kajiyama, seperti dikutip Kyodo News.
Menurut rencana yang telah direvisi untuk kelima kalinya, pabrik yang dioperasikan oleh Tokyo Electric Power Company Holdings Inc. itu akan sepenuhnya dinonaktifkan dalam waktu 30 hingga 40 tahun.
Tiga dari enam reaktor di PLTN Fukushima Daiichi mengalami kehancuran pada 11 Maret 2011 ketika gempa berkekuatan Magnitudo 9 terjadi 29 kilometer di bawah Samudra Pasifik, menyebabkan gelombang pasang yang menjulang setinggi 10 meter dan menghantam pantai timur Jepang.
Lebih dari 16.000 orang tewas di wilayah Tohoku dan sekitar setengah juta lainnya terpaksa mengungsi.