Muhammad Abdullah Azzam
02 Oktober 2020•Update: 03 Oktober 2020
Busra Nur Bilgic Cakmak
WINA
Sebuah organisasi internasional yang berdedikasi untuk kebebasan pers pada Kamis mengecam Arab Saudi karena terus menyangkal keadilan dalam pembunuhan kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi pada 2018 di Istanbul.
"Dua tahun berlalu sejak Jamal Khashoggi dibunuh, namun Arab Saudi gagal menyebutkan atau meminta pertanggungjawaban kepada dalang pembunuhan itu," kata Barbara Trionfi, direktur eksekutif Institut Pers Internasional, dalam sebuah pernyataan.
"Putusan baru-baru ini di pengadilan Saudi adalah penghinaan
terhadap keadilan yang seharusnya tidak diterima oleh komunitas internasional," sebut dia.
Jurnalis berusia 59 tahun itu dibunuh dan dipotong-potong oleh sekelompok komplotan dari Saudi tak lama setelah dia memasuki konsulat negara itu di kota Istanbul, Turki pada 2 Oktober 2018.
Riyadh memberikan narasi yang saling berlawanan untuk menjelaskan hilangnya Khashoggi sebelum mengakui bahwa dia telah dibunuh di gedung diplomatik dalam "operasi nakal".
Pada 7 September, Pengadilan Kriminal Riyadh meringankan hukuman mati dan menjatuhkan hukuman penjara hingga 20 tahun kepada para terdakwa, yang telah diampuni oleh keluarga Khashoggi. Para terdakwa sempat dijatuhi hukuman mati tahun lalu.
Trionfi juga mengkritik pemerintah-pemerintah yang tetap diam atas pembunuhan brutal itu.
“Fakta bahwa Arab Saudi telah berhasil menghindari konsekuensi nyata dari tindakan keji ini mengungkap kemunafikan wacana hak asasi manusia oleh pemerintah yang terus menggelar karpet merah untuk Kerajaan [Saudi],” ujar dia.
Sebelumnya, penyelidik hak asasi manusia PBB Agnes Callamard menyebut putusan Saudi atas pembunuhan itu sebagai "parodi keadilan" yang menghindari komplotan "tingkat tinggi".
Sementara itu, jaksa Turki telah mengajukan kasus kedua terhadap enam warga negara Saudi atas pembunuhan Khashoggi.
Dakwaan terhadap dua anggota staf konsulat - Sultan Yahya A. dan Yasir Halit M. - menuntut hukuman seumur hidup yang lebih berat.