25 Juli 2017•Update: 26 Juli 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Zulkifli Hasan menyampaikan arti penting Pancasila bagi negara saat membuka acara Seminar Nasional Islam dan Demokrasi di Jakarta, Selasa.
“Pancasila harus dijadikan pandangan hidup serta dasar berperilaku bangsa sehingga bisa menjadi pemersatu negara. Tapi kalau Pancasila dijadikan ‘stigma’, misalnya kita menyebut perilaku A itu bersifat Pancasilais sedangkan perilaku B itu tidak Pancasilais, maka Pancasila rentan menjadi alat pemecah-belah,” kata Zulkifli dalam acara di Bank Bukopin, Jakarta Selatan.
Ia melanjutkan, sila pertama Pancasila menegaskan Indonesia sebagai bangsa yang berketuhanan sehingga Pancasila dan NKRI tidak bisa dipisahkan. Ia mengibaratkan Islam dan demokrasi itu seperti ikan dan air, tak bisa dipisah. Indonesia tak mungkin memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan tanpa peran ulama.
Terkait sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, Zulkifli menyinggung penjajahan Israel terhadap Palestina yang telah berpuluh tahun, bahkan kasus terbaru penutupan kawasan Masjid al-Aqsa. Menurutnya, "untuk membela Palestina seseorang tidak perlu beragama Islam [sebab] yang penting menjunjung tinggi nilai kemanusiaan."
"Sila 3, ‘Persatuan Indonesia’, menegaskan bangsa Indonesia senasib sepenanggungan seperti disebutkan dalam pasal 33 UUD 1945 yang [salah satu ayatnya] menyebutkan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat,” kata Zulkifli.
Sedangkan sila keempat, kata dia, menekankan pentingnya mencapai keputusan dengan cara musyawarah mufakat sehingga semangat bermusyawarah harus dijaga.
“Sila kelima mengajarkan bahwa kita harus merdeka supaya bisa bersatu. Kita harus bersatu supaya bisa berdaulat. Kita harus berdaulat supaya bisa berlaku adil,” ujar Zulkifli.