Alex Jensen
03 September 2017•Update: 04 September 2017
Alex Jensen
SEOUL
Korea Utara mengklaim telah meledakkan bom hidrogen baru pada Minggu. Pernyataan ini mengkonfirmasi kecurigaan uji coba nuklir keenam setelah monitor sejumlah negara mencatat gempa besar buatan.
Administrasi Meteorologi Korea Selatan merekam gempa berkekuatan 5,7 SR di sekitar lokasi uji coba Punggye-ri Utara pada pukul 12.29 waktu setempat (pukul 3.29 waktu GMT). Sementara Survei Geologi Amerika Serikat mencatatnya gempa itu berkekuatan 6,3 - yang secara signifikan lebih kuat dari pada gempa berkekuatan besar 5.04 yang dipicu uji coba nuklir kelima negara itu setahun lalu.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan telah mengumumkan sebelumnya bahwa Korea Utara "diperkirakan" telah melakukan uji coba nuklir keenamnya.
Kantor Berita KCNA di Pyongyang kemudian mengumumkan bahwa tes "sempurna " itu melibatkan bom hidrogen yang dapat dipasang di Intercontinental Ballistic Missile (ICBM) Korea Utara.
“Uji coba H-bom dilakukan untuk memeriksa dan mengkonfirmasi keakuratan dan kredibilitas kontrol daya teknologi, dan desain struktur internal yang baru diperkenalkan agar ditempatkan sebagai muatan ICBM," lapor KCNA.
Sebelumnya KCNA juga mempublikasikan sejumlah gambar yang menunjukkan Kim Jong-un memeriksa hulu ledak bom H baru.
Secara terbuka, Korea Utara mengembangkan teknologi persenjataannya di tengah ancaman untuk menyerang daratan AS, meski uji coba rudal nuklir dan balistik dilarang.
Pyongyang berpotensi terkena hukuman internasional, meski Dewan Keamanan PBB baru saja memperkuat sanksi menyusul peluncuran 2 ICBM Korea Utara Juli lalu.
Kepala keamanan Seoul dan Washington, Chung Eui-yong dan H.R. McMaster, melakukan komunikasi telepon selama 20 menit setelah uji coba tersebut, menurut kantor berita setempat Yonhap.
"Presiden Moon Jae-in mengatakan bahwa negara tersebut tidak akan membiarkan Korea Utara terus melanjutkan teknologi nuklir dan rudalnya," kata Chung pada sebuah konferensi pers sore hari setelah sebuah pertemuan darurat Dewan Keamanan Nasional Korea Selatan, yang tampaknya setuju untuk mendorong hukuman yang lebih kuat. tindakan melawan Pyongyang dan mempertimbangkan untuk menggunakan senjata strategis Amerika yang kuat di Semenanjung Korea.
Terdapat sekitar 30.000 personil militer AS yang ditempatkan di Selatan, namun perangkat keras yang lebih kuat - seperti pembom B-1B - saat ini harus diterbangkan dari pangkalan Amerika di Guam.