Rhany Chairunissa Rufinaldo
02 Agustus 2019•Update: 03 Agustus 2019
Alex Jensen
SEOUL
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengadakan pertemuan kabinet darurat pada Jumat dalam upaya untuk menghadapi intensifikasi kebuntuan perdagangan Seoul dengan Jepang.
Pada Kamis, Kabinet Tokyo menyetujui mosi untuk menghapus Korea Selatan dari daftar putih mitra dagang tepercaya, setelah bulan lalu menerapkan proses yang lebih ketat untuk ekspor tiga bahan kimia yang dianggap vital untuk produksi teknologi lokal.
Setelah menghapus Seoul dari daftar putih, eksportir Jepang akan memerlukan lisensi untuk mengirim lebih dari 1.000 barang ke Korea Selatan, dengan alasan bahwa barang-barang tersebut kemungkinan digunakan untuk tujuan militer.
Kantor kepresidenan Seoul menyatakan penyesalan mendalam atas keputusan tersebut dan berjanji untuk menindak keputusan tidak adil Tokyo dengan cara yang tegas, lansir kantor berita setempat Yonhap.
Pemerintah Korea Selatan juga membentuk gugus tugas terkait untuk mengatasi pertumbuhan ekonomi negara yang lesu tahun ini, sementara bank sentral juga mengadakan pertemuan darurat pada Jumat.
Tokyo mencari pembenaran untuk langkah perdagangannya terhadap Seoul musim panas ini dengan alasan keamanan dan mencegah bahan-bahan sensitif masuk ke Korea Utara.
Namun, sejumlah laporan mengklaim bahwa Jepang menargetkan Korea Selatan dengan alasan politik terkait masalah sejarah.
Korea Selatan telah meminta Amerika Serikat untuk menengahi, mengingat hubungan dekat Washington dengan kedua negara, sementara menteri luar negeri dari ketiga negara berencana untuk bertemu di Thailand.
Amerika Serikat terlihat sangat khawatir tentang kemungkinan konsekuensi untuk aliansi dan keamanan regionalnya, jika Seoul membatalkan perjanjian pembagian intelijen militer dengan Tokyo.
Sejauh ini, tanggapan utama Korea Selatan datang dalam bentuk boikot oleh konsumen terhadap produk dan perjalanan wisata ke Jepang.