Elena Teslova
19 Juli 2023•Update: 24 Juli 2023
MOSKOW
Kremlin pada Selasa memperingatkan tentang risiko yang dapat timbul jika kesepakatan biji-bijian Laut Hitam dilanjutkan tanpa melibatkan Rusia.
Rute Inisiatif Biji-bijian di Laut Hitam sangat dekat dengan zona perang, yang harus dipertimbangkan jika tidak terjadi kesepakatan baru, kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada konferensi pers di Moskow.
“Ini adalah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari militer kita karena kita berbicara tentang zona yang langsung dekat dengan area kegiatan pertempuran, di mana tanpa jaminan yang tepat, risiko tertentu akan muncul. Oleh karena itu, jika sesuatu dirancang tanpa Rusia, maka risiko ini harus diperhitungkan," tegas dia.
Juru bicara Kremlin mencatat bahwa dia tidak tahu negara mana yang siap menghadapi risiko tersebut.
"Bahkan jika kita mengambil zona transaksi produk biji-bijian ini, itu bukan rahasia bagi siapa pun. Ini adalah fakta yang jelas bahwa zona ini digunakan oleh rezim Kyiv untuk tujuan militer. Ini adalah aspek yang sangat penting yang tidak boleh diabaikan," tegas dia.
Pada tahun lalu Turkiye, PBB, Rusia, dan Ukraina menandatangani perjanjian di Istanbul untuk melanjutkan ekspor biji-bijian dari tiga pelabuhan Ukraina di Laut Hitam, kesepakatan tersebut telah diperbarui beberapa kali sejak saat itu.
Di bawah kesepakatan tersebut, Pusat Koordinasi Bersama didirikan di Istanbul tahun lalu yang terdiri dari pejabat Rusia, Turkiye, Ukraina, dan PBB untuk mengawasi pengiriman. Namun, Rusia pada Senin kemarin menangguhkan kesepakatan tersebut.
Pada Oktober tahun lalu, Moskow menangguhkan kesepakatan biji-bijian selama beberapa hari karena serangan Ukraina terhadap kapal armadanya di Laut Hitam, yang dilancarkan melalui koridor kemanusiaan itu, menurut Kementerian Pertahanan Rusia.
Ketika ditanya apakah Presiden Rusia Vladimir Putin berkeinginan menghubungi Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan untuk melanjutkan kesepakatan, Peskov mengatakan belum ada yang dijadwalkan.
Juru bicara Kremlin itu juga menegaskan kembali kesiapan Rusia untuk mengirimkan biji-bijian Ukraina ke negara-negara yang membutuhkan secara gratis.
"Sayangnya, kita berbicara tentang jumlah yang agak kecil, karena negara-negara termiskin di Afrika menerima paling sedikit manfaat dari kesepakatan biji-bijian," ujar dia.
Pada 27-28 Juli, kota St. Petersburg akan menjadi tuan rumah KTT Rusia-Afrika kedua, di mana masalah ketahanan pangan akan menjadi agenda pertemuan itu, kata Peskov.
Dia memuji upaya Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dengan mengatakan Moskow "sangat menghargai" perannya dalam perjanjian ekspor biji-bijian.
“Kami sangat mengapresiasi upaya Guterres dalam upaya meyakinkan negara-negara Eropa untuk memenuhi komitmen yang telah mereka buat,” ujar dia.
Pejabat Rusia itu juga menolak tuduhan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken bahwa keputusan Rusia untuk menangguhkan kesepakatan itu "tidak masuk akal."
"Rusia memenuhi kewajibannya dan memperpanjang kesepakatan ini beberapa kali, meski ketentuan kesepakatan ini dengan Rusia tidak dilaksanakan. Dan dalam hal ini, kita harus menyebut posisi negara-negara Eropa 'tidak beralasan'," tukas dia.