30 Agustus 2017•Update: 31 Agustus 2017
Ayhan Simsek
BERLIN
Kanselir Jerman Angela Merkel menegaskan kembali komitmen Uni Eropa (UE) dalam penanganan pengungsi bersama dengan Turki, terlepas dari ketegangan politik antara Ankara dengan negara-negara Eropa.
Dalam konferensi pers di Berlin, Selasa, Merkel mengatakan bahwa sebagian besar dana yang dijanjikan UE, yakni EUR 3 miliar (USD 3,5 miliar), telah dialokasikan untuk proyek-proyek bantuan untuk pengungsi Suriah di Turki, namun dana tersebut belum digunakan seluruhnya.
"UE akan memegang teguh janjinya untuk menyediakan tambahan dana sebesar EUR 3 miliar, setelah dana awal EUR 3 miliar digunakan seluruhnya," katanya.
Pernyataan tersebut muncul setelah Komisioner UE Gunther Oettinger mengajak negara-negara anggota, Jumat lalu, untuk terus berkomitmen sesuai kesepakatan dan mengalokasikan tambahan dana dari anggaran negara mereka pada akhir 2018.
Merkel sudah lama menjadi pendukung utama kesepakatan UE-Turki yang disepakati pada Maret 2016, yang bertujuan untuk mengurangi migrasi ilegal melalui Laut Aegea dengan menindak pelaku perdagangan manusia dengan lebih tegas dan menyokong kehidupan hampir 3 juta pengungsi Suriah di Turki.
Meskipun kesepakatan ini berhasil mengurangi alur migrasi ilegal dan menjadi keberhasilan yang signifikan bagi politik domestik Merkel, namun UE gagal memberikan dana yang dijanjikan tepat pada waktunya.
Pada Juni 2017, UE menandatangani kontrak untuk 48 proyek yang jumlahnya mencapai EUR 1,6 miliar (USD 1,9 miliar). Sejauh ini, EUR 811 juta (USD 977 juta) dari EUR 3 miliar telah dicairkan.
Menurut kesepakatan UE-Turki, negara-negara Eropa harus memobilisasi tambahan dana EUR 3 miliar sampai akhir 2018.
Turki menampung pengungsi Suriah lebih banyak daripada negara lainnya di dunia. Ankara mengatakan bahwa ia telah menghabiskan lebih dari EUR 20 miliar (USD 24,1 miliar) dari sumber dananya sendiri untuk membantu dan menampung pengungsi sejak dimulainya perang saudara Suriah.