14 Oktober 2017•Update: 15 Oktober 2017
Ayhan Simsek
BERLIN
Partai Demokrasi Bebas Liberal (FDP) dan Partai Hijau, yang merupakan mitra koalisi potensial Kanselir Jerman Angela Merkel, telah mengajukan proposal yang bertentangan dengan Merkel mengenai hubungan masa depan antara Uni Eropa dan Turki. Proposal ini dikeluarkan beberapa hari sebelum pembicaraan eksplorasi antar partai.
FDP telah meminta untuk mengakhiri perundingan keanggotaan Turki di Uni Eropa (UE), namun mengusulkan sebuah model alternatif dari "agenda positif" untuk kerja sama yang erat antara Uni Eropa dan Turki.
"Mengingat arah politik domestik Turki sekarang, kita tidak dapat melihat keanggotaan Turki di Uni Eropa untuk saat ini," Michael Link, mantan menteri luar negeri Jerman pada Anadolu Agency.
Anggota parlemen senior FDP tersebut berpendapat bahwa proses Turki untuk menjadi anggota UE telah dihentikan secara de facto dalam waktu lama.
Link mengatakan partainya masih ingin melihat kerja sama yang erat antara Uni Eropa dan Turki, di bawah mekanisme baru yang disebut "agenda positif", dengan mempertimbangkan kepentingan kedua belah pihak.
"Uni Eropa dan Turki dapat bekerja sama semaksimal mungkin di berbagai bidang, seperti migrasi, masalah visa, energi, keamanan dan Uni Bea Cukai," katanya.
Tapi Partai Hijau, sepertinya akan bergabung dengan FDP, telah jelas menentang proses keanggotaan keanggotaan UE Turki.
"Setiap keputusan untuk benar-benar mengakhiri perundingan keanggotaan Uni Eropa, Turki akan menjadi pesan yang salah untuk aktor pro-Eropa dan demokratis di Turki," kata juru bicara Green Legm and Foreign Affairs Omid Nouripour kepada Anadolu Agency.
"Untuk Turki yang demokratis dan berpikiran liberal, pintu keanggotaan Uni Eropa harus tetap terbuka untuk Turki," tegasnya.
Namun, Nouripour menggarisbawahi bahwa dukungan mereka untuk membuka babak baru dalam perundingan keanggotaan Uni Eropa untuk Turki sangat tergantung pada langkah-langkah Ankara dalam isu-isu demokrasi dan peraturan hukum.
Dia juga mengingatkan harapan Jerman untuk membebaskan warga Jerman yang ditangkap di Turki, sebagai bagian dari penyelidikan anti-terorisme baru-baru ini.
Ikatan yang sempat tegang
Hubungan antara Turki dan Jerman telah menegang dalam beberapa bulan terakhir karena para pemimpin Turki mengkritik rekan-rekan Jerman mereka yang telah menutup mata terhadap kelompok-kelompok yang terlarang dan organisasi teroris yang menggunakan negara tersebut.
Sebaliknya, politisi Jerman mengkritik Ankara karena penangkapan belasan warga Jerman, termasuk seorang reporter dan aktivis hak asasi manusia, karena dicurigai membantu dan bersekongkol dengan sebuah organisasi teroris.
Pejabat Turki telah berulang kali menggarisbawahi independensi peradilan di Turki dan mengesampingkan pengaruh politik pemerintah terkait kasus yang melibatkan warga Jerman.
Merkel menghadapi perundingan koalisi yang sulit
Merkel mendapat tekanan besar dari saingannya menjelang pemilihan 24 September lalu untuk mempertajam nadanya terhadap Turki, namun dia menolak seruan untuk mengambil tindakan keras, dan menggarisbawahi pentingnya menjaga dialog dengan Ankara.
Blok Christian Democratic-nya menghadapi perundingan sengit untuk membentuk sebuah pemerintahan setelah pemilihan, karena mitra koalisi potensial berbeda dalam isu-isu utama seperti kebijakan, migrasi, energi dan pajak Eropa.
Merkel mengatakan bahwa pembicaraan eksplorasi mengenai pembentukan sebuah pemerintahan koalisi akan dimulai pada 18 Oktober mendatang, dengan blok CDU / CSU mengadakan diskusi terpisah dengan FDP dan Partai Hijau.
Dia mengatakan bahwa mereka berencana mengadakan pertemuan gabungan dengan pejabat tinggi keempat partai tersebut pada 20 Oktober.
Alternatif ekstrim kanan Jerman (AfD) telah dikecualikan oleh Merkel dari diskusi apapun.