Muhammad Nazarudin Latief
01 September 2018•Update: 02 September 2018
Kyaw Ye Lynn
YANGON, Myanmar
Militer Myanmar pada Sabtu mengklaim telah mengakhiri perekrutan tentara di bawah umur dengan memberhentikan 75 anak dari dinas militer.
Myanmar, yang telah bertahun-tahun terdaftar di antara negara-negara yang merekrut anak-anak untuk berperang - baik oleh pasukan pemerintah maupun pemberontak- menandatangani perjanjian dengan PBB pada 2012 untuk mengakhiri perekrutan dan penggunaan tentara anak.
Seorang pejabat militer Myanmar mengatakan 75 tentara anak telah diberhentikan pada Jumat, sehingga total perekrutan di bawah umur menjadi 924 sejak 2012.
“Kami mengakui bahwa ada perekrutan dan penggunaan tentara anak di masa lalu. Tetapi kami berkomitmen untuk mengakhirinya ketika proses perdamaian dimulai. Itulah mengapa kami menandatangani perjanjian dengan PBB pada 2012, ”kata pejabat di kementerian pertahanan yang tidak mau disebut namanya.
"Pembebasan ini adalah bagian dari upaya kami untuk mengakhiri penggunaan tentara di bawah umur," tambahnya.
Dia menolak memberikan perkiraan jumlah tentara yang masih di bawah umur pada saat perekrutan dan saat ini bertugas di militer.
Virginia Gamba, perwakilan khusus dari sekretaris jenderal PBB untuk Anak-Anak dan Konflik Bersenjata, menyambut langkah itu.
"Melepaskan anak-anak dan orang muda ini [dari dinas kemiliteran] merupakan langkah maju dalam pelaksanaan Rencana Aksi Bersama yang ditandatangani pada 2012 oleh Pemerintah Myanmar dan dalam memperkuat kerangka perlindungan bagi anak-anak di negara ini," kata Gamba dalam sebuah pernyataan Jumat malam.
Ini adalah pembebasan pertama kali sejak awal tahun setelah kunjungannya ke Myanmar pada pada Mei 2018.
Namun, militer Myanmar dan tujuh kelompok lainnya tetap "'pelaku yang gigih' dalam perekrutan dan penggunaan anak-anak di Myanmar", menurut PBB.