Chandni
15 Maret 2018•Update: 16 Maret 2018
Elena Teslova
MOSKOW
Kementerian Luar Negeri Rusia pada Rabu mengecam langkah yang diumumkan Perdana Menteri Inggris Theresa May yang mengatakan Moskow terlibat dalam insiden peracunan mantan agen.
Moskow mengatakan langkah itu sama dengan hasutan yang "mengikis fondasi dialog antar-negara," menurut Kementerian Luar Negeri dalam pernyataan yang dirilis melalui situs resmi mereka.
Mereka mengatakan rencana Inggris mengusir 23 diplomat Rusia menandakan "memburuknya hubungan antara kedua negara".
"Kami tidak bisa menerima fakta bahwa pemerintah Inggris, dilatar belakangi maksud politik, dengan sengaja merusak hubungan antar-negara," bunyi pernyataan itu.
Pemerintah Inggris memilih untuk mengkonfrontasi Rusia dan bukan melanjutkan investigasi terhadap insiden keracunan itu mengikuti standar Organisasi Pelarangan Senjata Kimia, lanjut Rusia.
Penyelidikan Inggris terhadap kasus itu "jelas-jelas sepihak dan tidak transparan serta memiliki tujuan mengundang sentimen anti-Rusia".
Mantan mata-mata Sergei Skripal, 66 tahun, dan putrinya Yulia, 33 tahun, dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan tidak sadarkan diri pada 4 Maret lalu di kota Salisbury, Inggris.
May mengatakan Skripal dan putrinya itu "diracuni dengan gas saraf seperti yang diproduksi oleh Rusia".
Insiden itu mirip dengan kasus kematian mantan agen KGB Alexander Litvinenko pada 2006, yang tewas setelah minum teh yang mengandung zat radioaktif. Sejumlah mantan anggota KGB yang ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan mengatakan mereka tidak terlibat sama sekali.
Skripal diberikan suaka oleh Inggris dalam program pertukaran mata-mata antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia pada 2010. Dia pernah dinyatakan bersalah atas tuntutan "pengkhianatan luar biasa dalam bentuk spionase" oleh pengadilan Moskow pada 2006 dan dijatuhkan hukuman 13 tahun penjara.