Rhany Chairunissa Rufinaldo
25 Februari 2019•Update: 25 Februari 2019
Mustafa Dala
ISTANBUL
Organisasi Islam terbesar dunia memperingati peristiwa pembantaian ratusan orang Azerbaijan pada 1992 sebagai akibat pecahnya Uni Soviet.
Yousef bin Ahmed Al-Othaimeen, sekretaris jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OKI), memberikan penghormatan kepada semua orang yang kehilangan nyawa dalam kekejaman 1992, menurut sebuah pernyataan, Minggu.
Al-Othaimeen mengatakan pembantaian di kota Khojaly adalah hasil dari pendudukan ilegal wilayah Azerbaijan oleh Armenia.
Dia juga mengutip pernyataan resmi akhir pertemuan OKI 2013 yang mengkarakterisasi tindakan terhadap warga sipil di wilayah Azerbaijan sebagai kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida.
"Sekretaris Jenderal selanjutnya menegaskan kembali dukungan penuh OKI terhadap inisiatif dan upaya Republik Azerbaijan untuk mengakhiri pendudukan wilayahnya dan untuk mengembalikan integritas teritorialnya," kata pernyataan itu.
Pembantaian yang terjadi pada 25 hingga 26 Februari 1992 dipandang sebagai salah satu insiden paling berdarah dalam perang antara Armenia dan Azerbaijan untuk menguasai wilayah Karabakh yang sekarang diduduki.
Pasukan Armenia mengambil alih kota Khojaly di Karabakh pada 26 Februari setelah memukulnya dengan artileri berat dan tank, dibantu oleh resimen infantri.
Serangan selama dua jam itu menewaskan 613 warga Azeri, termasuk 116 wanita dan 63 anak-anak, dan melukai 487 lainnya, menurut data Azerbaijan.
Karabakh - wilayah yang disengketakan oleh Azerbaijan dan Armenia - memisahkan diri dari Azerbaijan pada 1991 dengan dukungan militer dari negara tetangganya, Armenia, di mana hingga saat ini proses perdamaian belum dilaksanakan.
Tiga resolusi Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi Majelis Umum PBB menyebut Karabakh sebagai bagian dari Azerbaijan, sementara Majelis Parlemen Dewan Eropa mengatakan kawasan itu diduduki oleh pasukan Armenia.
Pendudukan Armenia atas Nagorno-Karabakh menyebabkan ditutupnya perbatasan dengan Turki, yang memihak Azerbaijan dalam sengketa tersebut.