Maria Elisa Hospita
22 Januari 2019•Update: 23 Januari 2019
Ahmet Salih Alacaci
ANKARA
Martin Luther King Jr., pemimpin gerakan perjuangan hak-hak sipil, lahir di keluarga pendeta pada 15 Januari 1929 di Atlanta, Georgia.
Dia menempuh pendidikan teologi sebelum ditahbiskan sebagai pendeta di Dexter Avenue Baptist Church di Montgomery, Alabama.
Selain aktif di Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Orang Kulit Berwarna (NAACP), King menjadi tokoh terkemuka dalam gerakan perjuangan hak-hak sipil tanpa kekerasan pada 1950-1960an.
Pada 1955, King berpartisipasi dalam aksi boikot menentang peraturan yang memisahkan tempat duduk bagi warga keturunan Afrika-Amerika dengan warga kulit putih di transportasi publik.
Pada 28 Agustus 1963, pidato yang disampaikan Martin Luther King Jr dalam sebuah aksi demonstrasi besar-besaran yang diikuti 200.000 orang di Lincoln Memorial di Washington menjadi momen bersejarah.
Dalam pidato berjudul "I Have a Dream" atau "Saya Punya Mimpi", dia mengungkapkan keyakinannya bahwa suatu saat setiap warga AS akan dapat menjalin persaudaraan tanpa memandang warna kulit.
Sebagai pejuang kesetaraan hak, King pun dianugerahi Nobel Perdamaian pada 1964.
Di tahun yang sama, pemerintah federal meloloskan Undang-undang Hak Sipil, yang secara definitif melarang adanya diskriminasi rasial di fasilitas publik di seluruh penjuru negeri. Meskipun begitu, implementasi undang-undang itu cukup lambat.
Tahun berikutnya, King memimpin ribuan demonstran berjalan kaki selama tiga hari dari Kota Selma menuju Montgomery, Negara Bagian Alabama untuk mendaftarkan pemilih kulit hitam.
Alabama memiliki undang-undang diskriminasi rasial yang mengakar kuat bahkan setelah ada UU Hak Sipil, dan gubernur saat itu, George Wallace, beserta pejabat lainnya berusaha mencegah partisipasi orang kulit hitam dalam pemilihan umum.
King meninggal dunia pada 1968, setelah peluru seorang penembak jitu menerjang kerongkongannya.
Sepanjang hidupnya, King memperjuangkan persamaan hak bagi semua orang, dan berkat perjuangannya itu, negaranya maupun dunia pun melek isu diskriminasi rasial.