Diyar Guldogan
22 September 2025•Update: 23 September 2025
NEW YORK
Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan akan menyampaikan pidato pada konferensi tingkat tinggi hari Senin mengenai kenegaraan Palestina di Majelis Umum PBB di New York.
Konferensi tersebut, yang disponsori oleh Prancis dan Arab Saudi, akan berupaya menghidupkan kembali "solusi dua negara" yang telah lama terhenti: satu Israel, satu Palestina, yang hidup berdampingan dalam perbatasan yang aman dan diakui.
Sebelum menuju New York pada hari Minggu, Erdogan mengatakan apa yang membedakan Majelis Umum tahun ini dari pendahulunya adalah banyak negara akan mengumumkan pengakuan mereka terhadap negara Palestina.
"Kami berharap keputusan untuk mengakui Palestina ini akan menambah momentum bagi implementasi solusi dua negara," tambah dia.
Inggris, Kanada, Australia dan Portugal secara resmi mengakui negara Palestina pada hari Minggu, dengan beberapa negara lain diperkirakan akan mengumumkan langkah serupa selama pertemuan tingkat tinggi minggu ini.
Presiden Prancis Emmanuel Macron diperkirakan akan mengumumkan pengakuan Prancis terhadap negara Palestina selama konferensi tersebut.
Meskipun AS menolak memberikan visa kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk bepergian ke New York secara langsung, Majelis Umum dengan suara mayoritas mengadopsi resolusi yang memungkinkan Abbas menyampaikan pidato di pertemuan puncak tersebut melalui tautan video.
Pada tahun 2012, Palestina diberikan status negara pengamat nonanggota di PBB.
Para anggota Dewan Keamanan PBB memberikan suara mendukung untuk mengizinkan pengamat Palestina berpartisipasi dalam diskusi Dewan mengenai situasi terkini di wilayah Palestina yang diduduki.
Namun, terlepas dari berapa banyak negara yang mengakui negara Palestina, keanggotaan penuh PBB masih bergantung pada persetujuan Dewan Keamanan — di mana AS memegang hak veto.