Rıskı Ramadhan
16 Februari 2018•Update: 16 Februari 2018
Kemal Karadağ
ANKARA
Seorang teroris PYD/PKK yang ditahan Turki mengatakan bahwa kelompok tersebut merekrut anggota baru dengan upah hanya USD 100 per bulan.
Dalam kesaksiannya kepada Kantor Jaksa Penuntut Umum di provinsi Hatay, Turki pemuda berumur 17 tahun dengan inisial A.S.T itu mengatakan bahwa dia mendapatkan pelatihan militer dan ideologis selama tiga bulan dari teroris yang memiliki kode nama Agit and Renans di wilayah Derik, Suriah.
A.S.T mengungkapkan bahwa dia bergabung dengan kelompok teror tersebut dua tahun lalu saat berusia 15 tahun.
Dia menambahkan, anggota yang telah dilatih ditempatkan di dekat perbatasan Turki-Suriah.
Menurut teroris tersebut, mereka dilatih untuk melakukan misi bunuh diri, sabotase dan pemboman di Manbij, dia juga mengaku pernah melihat tentara Amerika Serikat di tempat pelatihan.
Dia mengatakan bahwa kelompok tersebut bermaksud untuk mencegah warga sipil di Suriah melarikan diri ke Turki, namun Angkatan Bersenjata Turki berhasil menangkap mereka saat melakukan pengintaian di kawasan tersebut.
“Ada tank dan penembakan artileri, tujuh orang yang berada bersama saya tewas. Hanya saya yang selamat. Dan kemudian saya tertangkap,” ungkap dia.
A.S.T. mengatakan sayap bersenjata PYD/PKK, YPG merekrut teroris dengan imbalan hanya USD 100.
Dia menambahkan bahwa tentara Turki melakukan operasi sesuai hukum dan tidak melukai para teroris jika mereka menyerahkan diri.
Pada 20 Januari lalu, Turki meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk membasmi teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin, Suriah.
Staf Umum Turki menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah tersebut, juga untuk melindungi masyarakat Suriah dari tekanan dan kekejaman teroris.
Operasi ini dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak untuk membela diri di bawah Piagam PBB, dengan tetap menghormati integritas teritorial Suriah, kata pernyataan tersebut.
Pihak militer juga memastikan bahwa "sangat penting" supaya operasi tidak membahayakan warga sipil.
Afrin menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK ketika rezim Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut kepada kelompok teror tanpa pertempuran pada Juli 2012 silam.