Rhany Chairunissa Rufinaldo
05 September 2019•Update: 06 September 2019
Elena Teslova
MOSKOW
Rusia telah menegaskan kembali kesiapannya untuk menjadi penjamin bagi setiap perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Taliban.
"Pihak Rusia menegaskan kembali kesiapannya untuk bertindak sebagai penjamin untuk pelaksanaan perjanjian tersebut, jika menerima permintaan yang sesuai dari kedua pihak," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, Rabu.
Ketika ditanya tentang bagaimana Rusia melihat perannya, dalam mencapai perundingan antara Amerika Serikat dan Taliban, Zakharova mengatakan Moskow akan membantu mengimplementasikan kesepakatan itu.
Taliban sebelumnya mengatakan bahwa mereka semakin dekat menuju pencapaian kesepakatan dengan para pejabat AS, yang akan menarik diri dari Afghanistan jika Afghanistan berjanji tidak akan menjadi surga bagi terorisme internasional.
Kedua belah pihak telah melakukan negosiasi di Doha, ibu kota Qatar, sejak akhir tahun lalu.
Beralih ke krisis Venezuela, Zakharova menyebut pengumuman pemimpin oposisi Juan Guaido untuk membentuk pemerintah paralel merupakan upaya lain yang dirancang oleh Washington untuk mengacaukan negara.
Dia juga mengatakan bahwa keputusan AS untuk membuka departemen khusus untuk urusan Venezuela di kedutaan besarnya di Kolombia memancing banyak pertanyaan.
Menurut Zakharova, kedua peristiwa tersebut mencerminkan strategi baru AS yang bertujuan untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
"Banyak 'menteri' Guaido telah bekerja sejak lama untuk organisasi-organisasi yang disponsori AS. Ini menegaskan sekali lagi keengganan Gedung Putih untuk membiarkan rakyat Venezuela secara independen menyetujui solusi politik," ujar dia.
Venezuela diguncang krisis politik sejak 10 Januari, ketika Presiden Nicholas Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua.
Ketegangan meningkat pada 23 Januari setelah anggota parlemen Juan Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara.
Meskipun sejumlah negara telah menyatakan dukungan kepada Guaido, Turki, Rusia, China, dan Iran masih mendukung Presiden Nicolas Maduro sebagai pemimpin negara yang sah.